Senin, 27 April 2015

Dwiki Dharmawan Pukau Ribuan Penonton UNESCO International Day of Jazz

ODESSA, -  Dwiki Dharmawan (42) musisi jazz kontemporer Indonesia berhasil memukau lebih dari 1200 penonton yang hadir dalam acara “UNESCO International Day of Jazz” yang diselenggarakan pada hari Minggu (26/4)  waktu setempat.

Sebagaimana informasi yang diberikan Agus Prasetyo, Staff Pensosbud KBRI Kyiv melalui email menjelaskan bahwa acara ini berlangsung digedung Theater of Musical Comedy, Odessa, Ukraina.

Dok KBRI Kyiv
Fesival Jazz tahunan yang pada kesempatan tersebut khusus diselenggarakan untuk memperingati hari jazz internasional diinisiasi oleh Master Jam Festival Odessa yang bekerjasama dengan KBRI Kyiv, KBRI Warsawa, KBRI Bratislava dan Garuda Indonesia Airlines sebagai sponsor pada rangkaian tur Dwiki Dharmawan di Eropa tengah dan timur.

Kali ini, Dwiki Dharmawan secara khusus diundang sebagai special guest untuk memperkenalkan musik jazz dengan nuansa Indonesia kepada kalangan musisi jazz internasional yang turut hadir dalam acara tersebut.

Pada malam tersebut, Dwiki Dharmawan berkolaborasi dengan dengan 3 musisi jazz asal Polandia yaitu:  Adam Golicki (Drums), Piotr Chechki (Saxophone), dan Pawel Urwoski (Ac. Bass, Bass Guitar).

Selama 35 menit, tangan-tangan trampil mereka dengan apik memainkan beberapa komposisi musik yang telah disiapkan sebelumnya oleh Dwiki Dharmawan, yaitu: Clarissa, Arafura, Numfor sebagaimana terdapat album terbarunya yang bertajuk “Passion, Love, Live”.

Selain lagu-lagu tersebut, pendiri dan pemilik Sekolah Musik Farabi tersebut juga membawakan lagu-lagu daerah Indonesia yang diaransemen ulang seperti: Janger, Cik Cik Periuk dan Paris Berantai.

Karya pertama, Janger, semakin otentik dan unik dengan hadirnya gamelan bali yang dimainkan langsung oleh Agus Prasetyo, seorang pangrawit sekaligus guru gamelan dan angklung di KBRI Kyiv.

Karya janger dalam konser jazz tersebut tersebut menjadi unik karena lazimnya musik jazz selalu identik dengan penggunaan alat-alat musik “barat”, namun kali alat musik etnik mencoba menjadi bagian dari musik jazz tersebut.

Dwiki sengaja mengggunakan idiom etnisitas Indonesia kedalam musik jazz-nya untuk menunjukan kepada masyarakat jazz internasioanl bahwa Indonesia kaya akan kearifan lokal yang khas yang dapat memperkaya khasanah musik jazz dunia.
Dok KBRI Kyiv

Dalam acara tersebut, turut hadir Duta Besar RI Kyiv, Niniek Kun Naryatie, Pejabat Pemerintah Kota Odessa serta perwakilan negara-negara asing yang berada di Odessa.

Dalam sambutannya, Duta Besar RI Kyiv menyampaikan ucapan selamat kepada Master Jam Festival karena telah berhasil menyelenggarakan acara yang sangat besar yaitu UNESCO International Day of Jazz.

Diharapkan acara ini juga dapat meningkatkan kerjasama di bidang budaya antara khususnya musik antara Indonesia dan Ukraina.

Duta Besar RI Kyiv berharap agar nantinya musisi-musisi jazz terbaik Odessa juga dapat berkunjung ke Odessa untuk berpartisipasi pada acara serupa.

Secara terpisah, Duta Besar RI Kyiv menyampaikan bahwa keikutsertaan Indonesia pada festival Jazz di Odessa tersebut bukanlah yang pertama kalinya.

Sebelumnya, pada Juni 2013, pianis cilik asal Indonesia, Joy Alexader Sila (12) hadir sebagai peserta dalam Contest of Jazz Improvisation Skill dan pada saat itu,

 Joy yang masih berumur 10 tahun berhasil memenangkan Grand Prix 1st Contest of Jazz Improvisation Skill mengalahkan 43 musisi jazz dari 15 negara lainnya.

Sebagai informasi, International Day of Jazz UNESCO yang diselenggarakan di Odessa (26/4/2015) pernah diadakan sebelumnya pada tahun 2011 di kota yang sama.

Kota Odessa menjadi salah satu dari 196 negara yang menyelenggarakan International Day of Jazz yang didukung oleh Harbie Hancock, seorang musisi jazz kenamaan sekaligus UNESCO Goodwill Ambassador.

International Day of Jazz yang diperingati setiap tanggal 30 April tersebut diinisiasi oleh UNESCO dengan harapan agar setiap negara di dunia bisa mengambil waktu untuk menikmati jazz.

Walau kita ketahui bersama bahwa selama satu tahun terakhir Ukraina telah dilanda konflik berkepanjangan.

Konflik tersebut telah memecah kesatuan dan persatuan masyarakat Ukraina bahkan menyebabkan satu juta warganya terpaksa mengungsi.

Melalui diplomasi musik ini, inisiator acara ingin menyerukan perdamaian di seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, secara terpisah, Duta Besar RI Kyiv menyatakan bahwa tema “Jazz Unites Us” yang diangkat pada acara tersebut sangat cocok untuk membawa pesan perdamaian dengan harapan konser tersebut dapat menyatukan masyarakat Ukraina pada khususnya dan masyarakat internasional pada umumnya.


Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz