JAKARTA, - Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 kali ini tidak hanya punya nilai historis serta mengenang
masa lalu tetapi juga membangun jembatan antara dua benua besar Asia Afrika.
Hal inilah yang disampaikan
Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi dalam press briefing sebagaimana
dilansir dari laman resmi Kemlu
“Indonesia ingin menekankan
sense of solidarity, togetherness, dan growing together pada semua negara yang
hadir. Peringatan KAA ke-60 ini bukan hanya mempunyai nilai historis dan hanya
mengenang masa lalu, tapi untuk membangun jembatan antara 2 benua besar:Asia-Afrika.”
ucapnya.
Menlu juga mengatakan bahwa
tidak hanya Asia Afrika yang ada di dunia tetapi juga terdapat komunitas serupa
di dunia ini seperti APEC, FEALAC dan masih banyak lagi
“Asia-Eropa ada ASEM,
Asia-Pasifik ada APEC, Asia Timur-Amerika Latin ada FEALAC, Asia-Afrika ada KAA.
Jika Asia menjadi the engine of growth, maka Afrika adalah the continent of
hope,”ucapnya
Dalam peringatan Ke-60 KAA
ini, lebih dari 25 kepala negara dan kepala pemerintahan telah memastikan hadir.
Para delegasi ini akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Asia Afrika pada tanggal 22-23 April mendatang di Jakarta. Selain itu,
ada 18 permintaan dari negara-negara Asia Afrika untuk mengadakan pertemuan
bilateral dengan Presiden RI di sela-sela KTT.
Menlu juga menegaskan bahwa
dalam KTT Asia Afrika ini, Indonesia sebagai tuan rumah akan ‘berbagi
kepemimpinan’ atau co-chairing untuk mendorong sense of ownership yang besar di
antara negara-negara peserta di tengah suasana politik internasional yang kurang
kondusif dewasa ini.
Salah satu side event
Peringatan KAA ke-60 yakni Asia-Africa Business Summit akan dihadiri lebih dari
220 pebisnis.
Acara lainnya, yakni World
Economic Forum East Asia menarik lebih dari 200 CEO. Angka kehadiran yang
tinggi ini menunjukkan tingginya kepercayaan publik internasional dan Indonesia
ingin memanfaatkan kepercayaan ini sebaik- baiknya.
Kontak Blog >
ervanca@gmail.com
Twitter.com/CatatanLorcasz