Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Venezuela. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Indonesia Dorong Kerja Sama Energi dengan Venezuela

JAKARTA, -  Di sela-sela Konferensi Asia Afrika 2015, Wakil Presiden RI dengan didampingi Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Dian Triansyah Djani melakukan pertemuan dengan koleganya dari Venezuela.

Sebagaimana informasi yang diterima dari Kemlu bahwa  Dirjen Amerika dan Eropa, Dian Triansyah Djani mendampingi Wapres RI dalam pertemuan dengan Wapres Venezuela, Jorge Arreaza di sela-sela rangkaian kegiatan Konferensi Asia Afrika 2015.

Menurut Direktur Triansyah Djani, kedua pemimpin Negara sepakat untuk mendorong kerja sama konkrit dalam bidang energi, perdagangan , pariwisatan serte memperkuat kerja sama Selatan-Selatan.

“Wapres kedua negara sepakat untuk mendorong kerja sama konkrit di bidang energi, perdagangan, pariwisata dan people-to-people contact, serta memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, kesepakatan dalam pertemuan tersebut akan segera ditindaklanjuti sehingga dapat memberikan manfaat bagi pembangunan ekonomi di kedua negara,”ucapnya

Selain itu,  Wapres Jusuf Kalla menyetujui usulan Venezuela guna membentuk “Kelompok Kerja” untuk meningkatkan kerja sama energi di antara kedua negara, termasuk dalam bidang produksi dan pemasaran minyak.

Wakil Presiden kedua negara sepakat untuk mendorong saling kunjung antara pengusaha serta mendorong people-to-people contact.

Menurut Jusuf Kalla, saling kunjungan pengusaha merupakan langkah yang lebih nyata dalam meningkatkan hubungan ekonomi di antara kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Jusuf Kalla menyambut baik rencana Venezuela menyelenggarakan KTT Gerakan Non Blok ke-17 pada akhir bulan September 2015.

Sebagai pendiri GNB, Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kerjasama di antara negara anggota GNB serta memastikan kehadiran Indonesia pada KTT tersebut di Venezuela.

Selain itu, Wapres Jorge Arreaza mengapresiasi pidato Presiden RI yang antara lain mendukung kemerdekaan Palestina. Dikatakan bahwa Venezuela, sejak masa kepemerintahan mendiang Presiden Hugo Chavez, telah memberikan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.

Sebagai informasi, Jorge Arreaza adalah menantu dari mendiang Presiden Hugo Chavez dan menjabat sebagai wapres sejak tahun 2013.

Orang kedua Venezuela tersebut mempunyai peran penting dalam pemerintahan dan pengelolaan ekonomi Venezuela yang mempunyai proven oil reserve terbesar di dunia, 298.350 juta barrel pada tahun 2013. Produksi minyak mentah Venezuela mencapai 2,7 juta barrel per hari pada tahun 2014.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Venezuela pada tahun 2014 mencapai USD 39 juta dengan surplus yang signifikan untuk Indonesia.

Komoditi ekspor utama Indonesia ke Venezuela antara lain adalah produk kimia, mineral, logam, peralatan transportasi, mesin dan peralatan listrik.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Kamis, 09 April 2015

Swedia dan Belanda Jadi Peninjau KAA

JAKARTA, - Dua negara anggota Uni Eropa akan menjadi negara peninjau dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April 2015 mendatang.

Informasi yang beredar mengatakan bahwa kedua negara tersebut sudah memberikan konfirmasi kehadiran namun hingga saat ini belum dipastikan level pejabat yang akan hadir.

Selain Swedia dan Belanda yang mewakili Eropa, dalam konferensi ini juga akan ditinjau dari kawasan Latin yang diwakili Kuba serta Venezuela.

Hingga jelang peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 22 hingga 23 April ini sudah 20 pemimpin dari dua benua ini memberikan konfirmasi kehadiran.

Negara yang sudah konfirmasi untuk hadir adalah Afrika Selatan, Swaziland, Iran, Sri Lanka, Mozambik, Myanmar, Singapura, Kamboja, Vietnam dan Tiongkok.

Jadwal acara dari kegiatan ini akan dimulai pada 19 April dengan Pertemuan Pejabat Tinggi (SOM) yang berlanjut Pertemuan Pejabat Setingkat Menteri pada 20 April.

Tanggal 21 April sendiri akan diadakan pertemuan bisnis Asia-Afrika. Untuk puncak acara sendiri akan berlangsung di Bandung pada 24 April.

Dalam puncak acara ini, para peserta akan melakukan napak tilas KAA 1955 dengan berjalan kaki mulai dari Hotel Savoy-Homan menuju Gedung Merdeka Asia Afrika dan alun-alun Kota Bandung.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Kamis, 26 Maret 2015

Komentari Negara Penempatan di Media, Dubes KostaRika Dipecat

SAN JOSE, - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Kosta Rika untuk Venezuela Federico Picado Gomez harus menanggung dipecat dari negaranya karena memberikan komentar politis mengenai negara penempatannya dalam wawacara dengan harian lokal tanpa seizing San Jose.

Sebagaimana dilansir dari The Tico Times, pengumuman dipecatnya Dubes Picado dikeluarkan langsung dari Menteri Luar Negeri Kosta Rika, Manuel Gonzales.

Kejadian ini berawal ketika harian lokal Venezuela, La Nacion mempublikasikan hasil wawancara mereka dengan sang Dubes yang dilakukan melalui email pada Minggu (22/3) waktu setempat.

Dalam wawancara, sang Dubes sedang melakukan penelitian tentang masalah kebebasan pers di Venezuela, selain juga juga menyinggung soal inflasi negeri itu yang tinggi menyebabkan langkanya pasokan kebutuhan primer.

Situasi seperti itu menurut Dubes Picado dampak dari faktor politik dan bisnis besar yang mencoba mengganggu stabilitas negara serta mencoreng kredibilitas pemerintah.

Selain itu, sang Dubes pun mengapresiasikan kebijakan Presiden Venezuela, Nicola Maduro yang meminta dekrit untuk membendung intervensi AS adalah tindakan sangat tepat.

Akibat pembicaraan dengan wawancara tanpa izin yang dilakukan Dubes Kostarika tersebar luas membuat Presiden Luis Gullermo Solis ketika ditanya kalangan Jurnalis

Presiden Solis dalam konferensi pers mingguan mengatakan bahwa dirinya tetap membela sang Dubesnya namun apa yang dilakukan harus dipisahkan dari pendapat resmi negara soal Venezuela.

“Tidak perlu netral untuk menjadi seorang duta besar, dalam kasus Venezuela, satu-satunya juru bicara yang memiliki wewenang untuk memberikan pernyataan adalah menteri luar negeri. Kami memusatkan pernyataan di sana karena situasi sekarang ini sangat sensitif,”ucapnya.

Sementara itu dari Kementerian Luar Negeri Kosta Rika pun angkat bicara dan memberi penjelasan soal masalah ini dimana pihaknya untuk tetap waspada terhadap peristiwa yang terjadi.

“Situasi di Venezuela mengharuskan kita untuk tetap waspada terhadap evolusi peristiwa dan sinyal dari pentingnya dalam demokrasi penuh, keseimbangan demokrasi kekuasaan dan menghasilkan kondisi yang sesuai sehingga oposisi bisa melakukan tindakannya dalam kerangka legalitas,”demikian penjelasan dari Kemlu Kosta Rika.

Situasi Venezuela beberapa pekan ini cukup sensitif terkait dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan Washington DC terkait adanya sanksi kepada tujuh pejabat negeri latin tersebut serta mengatakan bahwa negeri Nicolas Maduro sebagai ancaman bagi kemanan nasional AS




Kontak Blog> ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Tiga Juta Warga Venezuela Tanda Tangani Petisi Anti-Obama

CARACAS, - Sekitar tiga juta orang tanda tangani petisi untuk meminta Presiden Amerika Serikat Barack Obama mencabut kebijakannya soal Venezuela.

Sebagaimana dilansir dari media setempat, menurut Jorge Rodriguez pejabat senior Partai Sosialis akan bertambah 10 juta tanda tangan dalam petisi tersebut jika melihat dalam waktu dua pekan saja sudah tembus 3 juta tanda tangan.

“Menurut Proyeksi kami, kami akan mengumpulkan 10 juta tanda tangan untuk mengataan Obama: cabut perintah eksekutif,” ucapnya

Tindakan petisi ini mendapatkan dukungan dari beberapa negara antara lain Rusia dan Argentina. Namun tindakan petisi ini menurut oposisi bukan berdasarkan nurani namun dengan dipaksa untuk menandatangani terutama para pegawai negeri.

Seperti koalisi partai oposisi, Democratic Unity (MUD) mengatakan bahwa warga Venezuela yang berada di luar negeri mendapatkan komunikasi dari kedutaan dan konsulat untuk meminta untuk menandatangani petisi tersebut pada Rabu (25/3)

“Mengingat kasus sebelumnya, bahwa petisi serupa digunakan untuk pemerasan politik, masyarakat Venezuela di luar negeri menolak inisiatif yang tidak tepat dan menjadi mekanisme balas dendam,”ucapnya.

Sementara itu partai oposisi garis keras, Popular Will menuduh Kementerian Pendidikan memerintahkan para guru sekola di kawasan Monagas tmur dimana para siswa menandatangani surat protes kepada Amerika Serikat

“Perintah untuk menulis surat itu merupakan upaya yang jelas untuk mengindoktrinasi anak-anak,”demikian pernyataan dari partai oposisi.

Praktek petisi tersebut adalah ketika menandatangani petisi tersebut diminta untuk memberikan nomor identitas dan telepon.

Rencananya Presiden Venezuela, Nicolas Maduro akan memberikan petisi tersebut secara pribadi kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada KTT negara-negara Amerika yang digelar di Panama April mendatang.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Senin, 16 Maret 2015

Wamenlu Venezuela Puji ASEAN

JAKARTA, - Wakil Menteri Luar Negeri Venezuela untuk Asia, Timur Tengah dan Oseania, Xoan Pablo Noya Alarcon memuji keberadaan ASEAN dan ingin menjalin kerjasama dengan regional tersebut.

Hal ini disampaikan Wamenlu Xoan Noya dalam kunjungannya ke kantor Sekretariat ASEAN yang diterima oleh Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi, Dr Lim Hing Hin.

Sebagaimana informasi yang diterima dari bagian Informasi Kantor Sekretariat ASEAN melalui email mengatakan dalam pertemuan tersebut Wamenlu Noya memuji apa yang dilakukan ASEAN dalam memperluas serta memperdalam integrase regional dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakatnya.

Selain itu Wamenlu Noya pun berminat mendorong kerjasama antara Venezuela dengan ASAN dalam lintas bidang termasuk diantaranya perdagangan dan investasi.

Kerjasama tersebut menurut Wamenlu Noya dapat diaplikasikan melalui mekanisme yang sudah ada seperti pada Forum For East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC) atau Komunitas Amerika Latin dan Karibia (CELAC) dan ASEAN-MERCOSUR.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekjend Lim mengapresiasikan usulan tersebut dan akan menyampaikan kepada Sekjen ASEAN.

Selain itu Wakil Sekjend Lim juga menjelaskan kepada Wamenlu Noya tentang kemajuan dan tantangan yang dihadapi ASEAN dalam menciptakan pasar tunggal dan produksi menuju pasar bebas yang kemungkinan bisa dijalin antara ASEAN dengan Venezuela.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Sabtu, 14 Maret 2015

Bolivia Minta AS Minta Maaf Ke Venezuela

LA PAZ, - Polemik tentang kebijakan yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat terhadap Venezuela membuat Bolivia angkat bicara dan meminta negara adi kuasa tersebut untuk meminta maaf agar tidak muncul sentiment anti-AS.

Hal ini disampaikan Presiden Bolivia Evo Morales sebagaimana dilansir Xinhua mengatakan sebaiknya Obama meminta maaf kepada Venezuela jika tidak ingin menghadapi perlawanan di pertemuan puncak negara-negara Amerika.

“Jika Obama tidak ingin menghadapi perlawanan di Pertemuan Puncak Negara-Negara Amerika, maka ia harus meminta maaf khususnya kepada Venezuela,”ucapnya.

Morales juga menjelaskan bahwa forum tersebut diharapkan bisa menjadi wadah untuk mendiskusikan pembangunan terutama karena negara-negara Amerika latin mengagumi kemajuan teknologi AS

Namun dalam pertemuan itu juga tidak untuk membahas instalasi pangkalan militer AS, intevensi militer atau ancaman terhadap gerakan demokrasi serta reformis

Sebagai informasi, pertemuan puncak organisasi Negara-negara Amerika (OAS) akan diselenggarakan di Panama City pada bulan April mendatang.

Kisruh Amerika dan Venezuela sendiri beberapa hari ini memanas seiring dengan kebijakan baru yang dikeluarkan Obama adanya tiga sanksi terhadap negara latin tersebut.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Jumat, 13 Maret 2015

Perkuat Bilateral Ekonomi, Wamenlu Venezuela Berkunjung Ke Pejambon

JAKARTA, - Untuk lebih meningkatkan hubungan ekonomi antara Indonesia dan Venezuela membuat Wakil Menteri Luar Negeri negara latin tersebut berkunjung ke Indonesia.

Sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemlu RI, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Dian Triansyah Djani menerima kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Venezuela, Xoan Pablo Noya Alarcon, di Jakarta (13/3), untuk membahas peningkatan hubungan bilateral, khususnya kerja sama ekonomi dan perdagangan Indonesia dan Venezuela.

Dalam pertemuan, Dirjen Amerika dan Eropa menekankan kembali pentingnya mengedepankan diplomasi ekonomi termasuk memfasilitasi kunjungan pengusaha Venezuela ke Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengusaha Venezuela secara aktif berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI). Pada TEI 2012, pengusaha Venezuela melakukan transaksi sebesar US$ 25,1 juta yang merupakan transaksi terbesar dari kawasan Amerika Latin.

“Fokus Kemlu saat ini adalah mendorong dan memfasilitasi pengusaha nasional masuk ke Amerika Selatan dan Karibia dan Eropa Timur,” ujar Dubes Dian

Dalam pertemuan tersebut Dubes Dian juga menyampaikan potensi pariwisata Indonesia dan menawarkan berbagai produk Indonesia yang dapat diimpor Venezuela seperti minyak sawit, tekstil, produk elektronik, dan produk farmasi.

Disampaikan bahwa pengusaha Indonesia dapat menjajaki investasi bidang konstruksi dan pembangunan rumah murah di Venezuela.

Dalam kesempatan ini, Dirjen Amerika dan Eropa juga menyerahkan surat undangan Presiden RI kepada Presiden Venezuela untuk hadir sebagai observer pada KTT Asia Afrika, tanggal 19-23 April 2015 serta menyampaikan dukungan Indonesia pada Keketuaan Venezuela pada KTT GNB ke-17 pada tahun ini di Caracas.

Sebagai informasi, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Venezuela pada tahun 2014 mencapai US$ 39 juta dengan surplus yang signifikan untuk Indonesia.

Komoditi ekspor utama Indonesia ke Venezuela antara lain adalah produk kimia, mineral, logam, peralatan transportasi, mesin dan peralatan listrik.  

Komitmen Kemlu untuk meningkatkan diplomasi ekonomi diterjemahkan Kedutaan Besar RI di Caracas melalui “diplomasi batik”.

Promosi batik ini telah berhasil mendorong animo masyarakat Venezuela untuk mengenakan batik sekaligus meningkatkan impor bahan baku  tekstil dan produk tekstil dari Indonesia yang telah mencapai US$ 15 juta pada tahun 2013.

Venezuela sendiri adalah negara yang berpenduduk 30,4 juta jiwa merupakan negara pengekspor minyak terbesar ke-6 dunia, dan memiliki cadangan minyak mentah (proven reserves) terbesar di dunia sebesar 298.350 juta barrel pada tahun 2013.

Produksi minyak mentah Venezuela mencapai 2,7 juta barrel per hari pada tahun 2014. Sembilan puluh lima persen ekspor Venezuela berasal dari ekspor minyak.




Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Venezuela – AS Kembali Memanas

WASHINGTON DC, - Belum usainya kebijakan Presiden Venezuela yang meminta AS untuk memangkas jumlah diplomatnya di Caracas dari seratus menjadi tujuh belas kali ini muncul lagi gesekan politik luar negeri kedua negara.

Kali ini Presiden Obama mengambil tempat dimana dirinya menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan diri Venezuela adalah ancaman bagi keamanan nasional AS.

Sebagaimana dilansir media setempat, kebijakan Obama ini berdasarkan para pejabat Venezuela kerap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap pejabat oposisi dan melakukan praktik korupsi.

Kepastian ini disampaikan Juru Bicara Gedung Putih Josh Earnest dalam pernyataan resminya dimana pejabat neger beribukota Caracas tersebut pada masa lalu atau sekarang melanggar HAM warganya.

“Para pejabat Venezuela yang pada masa lalu maupun sekarang melanggar hak asasi warga negara Venezuela dan terlibat dalam tindakan korupsi publik tidak akan diterima di sini,”demikian penjelasan juru bicara Gedung Putih.

Earnest juga menambahkan bahwa pihaknya sekarang memiliki alat untuk memblokir aset Venezuela sehingga tidak dapat menggunakan sistem keuangan AS

“Kami sekarang memiliki alat untuk memblokir aset mereka sehingga mereka tidak dapat menggunakan sistem keuangan AS,”ucapnya.

Sementara itu dari Caracaz, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro sangat murka atas kebijakan yang dikeluarkan Obama tersebut  bahkan dirinya tidak mau kalah meminta kepada parlemen untuk membuat undang-undang baru terkait dengan kebjakan AS tersebut.

“Saya datang untuk meminta Enabling Law untuk menghadapi agresi dari negara yang paling kuat di dunia, Amerika Serikat terhadap negara yang indah ini, ini adalah hukum yang akan mempersiapkan negara kita. Semoga kita tak pernah lengah,”ucapnya.

Sebagai informasi, perintah eksekutif yang ditandatangani Obama ini berisikan sanksi ekonomi serta pelarangan pemberian visa bagi ketujuh pejabat Venezuela ke otoritas Amerika Serikat.

Selain itu aset dari ketujuh pejabat publik Venezuela ini yang berada di Amerika Serikat berupa property dan segala kepentingan lainnya dibekukan.

Bahkan warga negara Amerika Serikat juga dilarang melakukan kegiatan bisnis dengan ketujuh pejabat tersebut.




Kontak Blog > ervanca@gmail,com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Lewat Twitter, Dua Petinggi Kemlu Adu Argumen Soal Kebijakan Obama terhadap Venezuela

WASHINGTON DC, - Terkait dengan kebijakan Obama yang memberikan sanksi ekonomi, pemberian visa serta pembekuan aset di AS kepada tujuh pejabat Venezuela menuai adu argument antar pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri kedua negara.

Adu argument tersebut dituangkan dalam jejaring sosial microblogging 140 karakter, Twitter dimana Assisten Menteri Luar Negeri AS Roberta Jacobson yang memulai argumennya dalam akun twitternya memberikan penjelasan soal sanksi tersebut.

“Tujuan dari sanksi tersebut adalah untuk membujuk pemerintah Venezuela untuk mengubah caranya bukan untuk menghapus pemerintah Venezuela,”demikian penjelasan Jacobson.

Namun apa yang dikicaukan Jacobson direpson oleh Menteri Luar Negeri Venezuela, Delcy Rodriguez kepada media televisi lokal yang mengatakan Jacobson memberitahukan apa yang harus negeri tersebut lakukan dengan cara kasar dan marah.

“Dalam cara yang kasar dan marah-marah Jacobson memberitahukan kami apa yang harus dilakukan. Saya tahu dia sangat baik karena saya telah melihat dia secara pribadi, caranya berjalan, mengunyah anda perlu sopan santun untuk berurusan dengan pejabat dan negara,”ucapnya.

Tidak hanya kedua petinggi Kemlu, Presiden Venezuela Nicola Maduro pun dengan langkah cepat membalas tindakan Obama dengan mengunjungi parlemen untuk meminta izin mengeluarkan dekrit.

Namun tindakan Maduro tersebut diperolok oleh pejabat oposisi dengan mengatakan apa yang dilakukan dengan dekrit adalah cara presiden membentuk pemerintahan yang otokratis dan mengalihkan isu penyusutan ekonomi berakibat kebutuhan pokok negeri itu langka.

“Nicolas, Anda meminta dekrit untuk membuat sabun, popok dan obat-obatan dan menurunkan inflasi?,”ucap pemimpin oposisi Henrique Capriles.

Sebagai informasi, perintah eksekutif yang ditandatangani Obama ini berisikan sanksi ekonomi serta pelarangan pemberian visa bagi ketujuh pejabat Venezuela ke otoritas Amerika Serikat.

Selain itu aset dari ketujuh pejabat publik Venezuela ini yang berada di Amerika Serikat berupa property dan segala kepentingan lainnya dibekukan.

Bahkan warga negara Amerika Serikat juga dilarang melakukan kegiatan bisnis dengan ketujuh pejabat tersebut.


Kontak Blog > ervanca@gmail,com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Selasa, 03 Maret 2015

Venezuela Perintahkan Perwakilan AS Kurangi Staf Diplomatik

CARACAS, - Apa yang dikatakan Pemerintah Venezuela agar meminta Pemerintah Amerika Serikat untuk memangkas para staf diplomatiknya di Caracas sesuai dengan jumlah yang sama di Washington DC bukan sekedar gertak sambal.

Ini terbukti dimana Pemerintah Venezuela memberikan tenggak waktu dua pekan kepada Kedutaan AS di Caracas untuk mengurangi jumlah stafnya dari sekitar 100 personel menjadi 17 orang.

Kepastian ini disampaikan Menteri Luar Negeri Venezuela, Delcy Rodriguez setelah jarangnya pertemuan yang terjadi dengan para diplomat AS tersebut..

Dirinya juga mengatakan siapa yang akan dikirim pulang dari 100 staff tersebut dikembalikan kepada pihak Amerika Serikat.

Alasan pemangkasan staff tersebut dilakukan pihaknya lebih kepada prinsip kesetaraan dimana sangat tidak adil perwakilan Venezuela di AS hanya berjumlah 17 orang

Apa yang dilakukan Menteri Dalam Negeri terkait dengan kebijakan yang dilontarkan Presiden Nicolas Maduro dimana pihaknya telah menahan beberapa warga AS dengan tuduhan spionase dan menjanjikan tindakan untuk membatasi gerakan para staff diplomat AS yang dituduhnya berkonspirasi dengan oposisi untuk menggulingkan dirinya.

Selain itu, dalam kebijakannya, pihaknya akan mewajibkan setiap turis AS untuk memperoleh visa sebelum datang ke negaranya dan melarang masuk tokoh politik negara yang dipimpin Obama ini antara lain dari Partai Republik, Mantan Presiden Dick Cheney dan Senator Marco Rubio.

Sebagai informasi, Amerika Serikat dan Venezuela sejak tahun 2010 tidak mengirimkan duta besar mereka hanya setingkat charge d’affaires atau Kuasa Usaha Ad Interim.



Kontak blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Minggu, 01 Maret 2015

Venezuela Batasi Keberadaan Diplomat dan Pekerja AS di Caracas

CARACAS, - Venezuela sepertinya tidak mau ada unsur Amerika Serikat di dalam negaranya termasuk urusan diplomatic

Sebagaimana informasi dari media setempat, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengeluarkan sejumlah kebijakan dimana akan membatasi jumlah diplomat AS di negaranya

Selain membatasi jumlah diplomat AS di negaranya, dirinya juga mengeluarkan daftar nama petinggi negara tersebut untuk masuk ke Venezuela.

Ilustrasi - Istimewa
Dasar kebijakan ini menurut Maduro, karena ketimpangan jumlah pekerja negaranya di Amerika dengan warga AS di Caracas.

Dirinya mencontohkan bahwa AS memiliki 100 karyawan yang berada dan bekerja di Venezuela sedangkan warga Veneuzela hanya 17 orang yang bekerja di negara yang dipimpin Barack Obama tersebut.

Untuk mengimbangi tersebut pemerintah Venezuela akan memberlakukan tariff sama terhadap warga AS sebagaimana yang dikenakan rakyatnya ketika mengunjungi Amerika.

Selain itu nama petinggi AS yang dilarang berada dalam wilayah Venezuela antara lain Dick Cheney, Bob Menendez, Marco Rubio dan George W Bush yang menurut Maduro orang ini telah melanggar hak asasi manusia dan mendorong timbulnya terorisme di Irak dan Suriah.

Kebijakan ini dikeluarkan Venezuela terkait dengan tindakan yang dilakukan Amerika Serikat memberlakukan larangan visa pada pejabat negerinya yang dituduh melanggar hak asasi manusia dan korupsi.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz

Selasa, 03 Februari 2015

Petinggi Venezuela Dilarang Masuk Wilayah Amerika

CARACAS, Pemerintah Amerika Serikat membuat kebijakan soal larangan visa bagi sejumlah petinggi Venezuela yang terlibat dalam kasus korupsi serta pelanggaran hak asasi manusia.

Ilustrasi - Istimewa
Sebagaimana dilansir Departemen Luar Negeri AS mengatakan larangan tersebut diperkuat adanya Undang-Undang yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada Desember 2014 lalu terkait dengan sanksi visa kepada sejumlah petinggi negara latin tersebut dan disetujui kongres.

“Kami mengirimkan pesan yang jelas bahwa pelanggar hak asasi manusia, mereka yang mendapatkan keuntungan dari korupsi dan segenap keluarga mereka tidak diterima di Amerika Serikat,”demikian penjelasan Deplu AS

Namun Deplu AS tidak akan mengidentifikasi sejumlah pejabat Venezuela lantara peraturan kerahasiaan visa AS

Namun informasi yang beredar pemberlakuan larangan tersebut kepada pejabat keamanan Venezuela yang terkait dengan aksi protes tahun lalu yang menewaskan sekitar 43 orang termasuk demonstran para pendukung pemerintah dan pejabat keamanan.

Semantara itu terkait dengan pelarangan, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro mengecam tindakan Amerika Serikat dan menuduh negara itu munafik

“Hak asasi manusia apa yang mereka bicarakan ? Mereka membunuh kulit hitam di jalan-jalan, menganiaya dan memiliki kamp konsentrasi anak-anak Amerika Tengah. Di Guantanamo mereka menahan puluhan warga dunia tanpa memberikan proses hukum AS melakukan penyiksaan dan isolasi,”ucapnya.

Pada Senin (2/2) waktu setempat Presiden Maduro menyatakan bahwa Wapres AS dihadapan para pemimpin negara Karibia bahwa pemerintahan negara beribukota Caracas tinggal menghitung hari dan bersiap melihat akhir Petrocaribe.

Maduro sendiri mengatakan bahwa Petrocaribe akan terus bertahan meskipun volume minyak kian turun pada dua tahun lalu di level terendah sepanjang lima tahun terakhir.

Petrocaribe sendiri adalah persekutuan negara-negara Karibia penghasil minyak yang dibentuk Chavez dimana memungkinkan negara-negara di kawasan tersebut dan Amerika Tengah untuk membiayai minya dan bahan bakar dengan harga yang menguntungkan.




Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/Lorcasz