JAKARTA, - Kegiatan
Peringatan KAA bukanlah sekedar sebuah perhelatan nostalgia yang mengenang kejayaan
masa lalu.
Namun, Pertemuan ini juga di
maksudkan sebagai arena untuk memperkuat jembatan kerjasama di berbagai bidang
antara negara-negara di kawasan Asia dan Afrika.
Demikian paparan Menlu Retno
LP Marsudi dalam pembukaan pertemuan tingkat menteri yang dilaksanakan di JCC
pada 20 April 2015.
"Kalau tahun 1955 kita
dihadapkan dengan kemiskinan dan kolonialisasi, saat ini, jujur saja,
geopolitik dan ekonomi dunia juga belum seimbang. Palestina misalnya, masih
berjuang meraih kemerdekaanya," ujarnya.
Sebagaimana dilansir dari
laman resmi Kemlu, dsisebutkan juga bahwa gap pembangunan semakin menganga.
Lebih dari satu milyar penduduk hidup dengan 2 dolar per hari. Sementara
konflik dan intoleransi masih terus belangsung.
Oleh karenanya, melalui
Bandung Message yang akan ditelorkan mencakup 3 pilar kerjasama dan menegaskan
komitmen bersama untuk solidaritas politik, perkembangan ekonomi dan hubungan
kultural yang kuat. Adapun implementasinya akan diwadai dalam the New
Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP).
The NAASP sendiri tidak
hanya berisi tentang Kerjasama apa saja yang akan dikerjakan, namun juga
mencakup cara-cara implementasi program sehingga dapat terlaksana secara
efektif.
"Saya percaya bahwa
Kerjasama Selatan-Selatan akan menjadi kendaraan yang efektif bagi implementasi
visi Bandung Message dan the NAASP. Dan hal itu akan makin kuat dengan dukungan
Negara maju melalui Kerjasama Segitiga (Triangular Cooperation),”ucapnya
Menurut Menlu, konsep maju
bersama-sama adalah sebuah keharusan. Indonesia, siap maju bersama
negara-negara di Asia dan Afrika
Kontak Blog >
ervanca@gmail.com
Twitter.com/CatatanLorcasz