JAKARTA, - Pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan duka cita yang mendalam
atas wafatnya Mantan Perdana Menteri ke-22 Australia Malcolm Fraser pada Jumat
(20/3)
Sebagaimana informasi yang
diterima dari Direktorat Informasi dan Media Kemlu melalui email mengatakan mendiang
merupakan tokoh negarawan yang telah menjadi suri teladan nilai nilai
multiteralisme, demokrasi dan keseteraan dalam sejarah.
Almarhum juga dikenang atas
dukungannya terhadap ASEAN untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
“Kami mendoakan agar
keluarga yang ditinggalkan dan rakyat Australia diberikan kekuatan dan
ketabahan dalam menghadapi suasana kedukaan pada saat ini,”demikian siaran pers
dari Kemlu RI
Sebagai informasi, Malcolm
Fraser menjabat Perdana Menteri Australia periode 1975 sampai 1983 meninggal
dalam usia 85 tahun
Fraser sendiri adalah
Perdana Menteri Australia ke-22 yang diangkat pasca digulingkannya Gough Whitlam
pada1975.
Sepanjang karir menjadi
Perdana Menteri pria kelahiran tahu 1930 ini sebagai pelopor terdorongnya
peningkatan hubungan diplomatic negerinya dengan kawasan Asia Timur dan ASEAN.
Selain itu pria yang lahir dari keluarga kaya ini juga dikenal sebagai sosok pendukung Hak Asasi Manusia yang
mengatur peningkatan imigran asal Asia serta pelarangan perburuan paus di
negaranya.
Soal HAM sendiri pria
lulusan Oxford University, Inggris ini mendapatkan tanda jasa Australia pada
tahun 1988 dan medali HAM Australia pada tahun 2000 atas sikapnya dalam
mendorong Hak Asasi Manusia di internasional dan regional.
Kemudian juga dirinya
membentuk badan bantuan CARE Australia, membentuk Polisi Federal Australia
serta Undang-undang pertama tentang Kebebasan infomrasi dan menampung manusia
perahu Vietnam.
Kontak Blog >
ervanca@gmail.com
Twitter.com/CatatanLorcasz