Minggu, 08 Maret 2015

Post ke-150 : Pidato Hari Perempuan Dunia oleh Megawati Soekarnoputri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Damai Sejahtera bagi kita semua
Om Swastiastu
Namo Buddhaya

Yang terhormat,
Ibu Iriana Joko Widodo
Para Menteri Kabinet Kerja
Bapak/Ibu Kepala Daerah

Dan yang saya banggakan, perempuan-perempuan dari berbagai organisasi, para bidan PTT, hadirin se-Bangsa dan se-Tanah Air,

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Atas karunia-Nya kita dapat memperingati Hari Perempuan Internasional.

Peringatan hari perempuan sedunia ini sangatlah penting. Inilah momentum bagi kaum perempuan Indonesia, untuk menelusuri kembali jejak sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang tidak kalah dengan perjuangan kaum perempuan dunia.

Lihatlah, perjuangan Gayatri Radjapadmi yang meletakkan dasar kepemimpinan pemersatu Nusantara pada jaman Majapahit.

Pelajarilah perjuangan Laksamana Malahayati yang menggetarkan bala tentara penjajah Portugis dan berdiri sebagai panglima perempuan terkuat di Aceh.

Demikian halnya dengan kepeloporan RA Kartini, Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, dan masih banyak lagi. Pendeknya,  negeri ini tidak pernah kering dari hadirnya seorang pemimpin pelopor, berkat kaum perempuannya yang visioner dan menyatukan diri dalam perjuangan kebangsaan Indonesia.

Meskipun demikian, kita juga tidak bisa melepaskan diri dari kenyataan sejarah, bahwa bangsa ini mengalami penjajahan yang begitu lama, lebih dari 350 tahun. Proses penjajahan ini sangatlah dahyat dan berlangsung dari generasi ke generasi.

Sekiranya ada penelitian yang mendalam, saya percaya bahwa penjajahan ini telah mewariskan suatu bentuk dari “gen perbudakan” yang muncul dari rasa rendah diri  yang menggerus mentalitas dan martabat kita sebagai bangsa.

Di sinilah saya sepakat terhadap pentingnya nation and character building, atau suatu revolusi mental, untuk mengembalikan keseluruhan jati diri kita sebagai bangsa besar, yakni bangsa yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian.

Saudara-saudara,

Perjuangan gerakan kaum perempuan, merupakan potret perjuangan kemanusiaan atas “kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan” di ranah politik, sosial  dan ekonomi. Ini pun tidak cukup.

Perjuangan perempuan dengan nilai-nilai di atas, hanya berarti apabila kaum perempuan menyatukan diri dengan rakyat, sebab perempuan adalah Rakyat itu sendiri.

Dalam konteks emansipasi, tak boleh ada eksklusifitas bersikukuh mengatakan: “emansipasi  hanya untuk perempuan”. Apalagi, sampai membuat garis dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Tengoklah “Sarinah”. 

Di dalam buku tersebut, Bung Karno menyitir sebuah hadits Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, yang mengatakan betapa pentingnya perempuan bagi negara. Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri ini.

Manakala buruk perempuan, buruklah negeri ini. Karena itu, dalam Peringatan Hari perempuan Internasional pada tahun 1960, Bung Karno pun menegaskan, apa yang  diperjuangkan oleh kaum perempuan sudah seharusnya diperjuangan juga oleh kaum laki-laki. “The emancipation of woman is the emancipation of man”. 

Tapi, menurut Bung Karno, kaum perempuan tetap harus bergerak dan berjuang keras. “Tidakkah berulang kali saya berkata: seribu dewa dari kayangan pun tidak akan bisa menolong kepada saudara kaum wanita, jikalau saudara-saudara wanita sendiri tidak berjuang.

Nasib wanita tidak di dalam tangannya kaum laki-laki, nasib wanita tidak di tangan seribu dewa dari kayangan, nasib wanita adalah di dalam tangannya sendiri.”

Saudara-saudara,

Ide, semangat, dan landasan perjuangan kaum perempuan Indonesia sebagaimana digambarkan dalam Sarinah menempatkan pentingnya azas kolektivitas.

Kolektivitas yang menyatukan kaum perempuan Indonesia dalam gagasan yang sama. Bahkan kekuatan kolektivitas itu hadir sebagai kekuatan perubahan sehingga kaum perempuan menjadi sumber kebudayaan bagi Indonesia yang lebih baik.

Semangat inilah yang saya harapkan muncul kembali, sekaligus sebagai antitesa atas menguatnya orientasi individual dalam seluruh bidang kehidupan yang semakin pragmatis.

Semangat kepeloporan kaum perempuan ini sangatlah penting. Sebab, bagaimana kita bisa mencapai masyarakat adil dan makmur, apabila dalam contoh kehidupan sehari-hari saja, kaum perempuan justru semakin terpinggirkan.

Hadirin yang saya muliakan,

Tahun ini adalah tahun penentuan bagi kaum perempuan Indonesia. Tahun dimulainya pemerintahan baru. Janji-janji politik pada masa kampanye telah disampaikan, termasuk yang terkait isu-isu perempuan.

Saya yakin, kita semua berharap adanya pemenuhan janji-janji politik itu. Dasar-dasar keberpihakan terhadap perjuangan kaum perempuan pun telah saya letakkan.

Dalam kapasitas saya sebagai presiden, saya telah mendorong dan memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan

Dalam Rumah Tangga. Demikian halnya dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Saya  pun memutuskan untuk menandatangani Konvensi PBB tentang Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya.

Saya juga memaksa Kapolri Saat itu, Bapak Da’i Bachtiar, agar Akademi Kepolisian membuka kesempatan yang sama bagi kaum perempuan untuk mendarma-baktikan sebagai Bayangkara Negara.

Sekarang, saya dengar, kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi perempuan juga sedang memperjuangkan berbagai aturan yang penting bagi perbaikan nasib kaum perempuan.

Mulai dari Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, hingga revisi undang-undang bagi TKI, yang mayoritas juga adalah kaum perempuan.

Ada pula kelompok yang sedang menggalang kekuatan untuk hadirnya Undang-Undang Perlindungan Penyandang Disabilitas, Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, perbaikan atas aturan tentang perkawinan, dan masih banyak lagi. Kesemuanya itu sangatlah penting bagi kaum perempuan Indonesia.

Saudara-saudara,

Sudah saatnya kita pun memperkuat kebijakan politik, yang membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi perempuan Indonesia. Pendidikan adalah jalan pembebasan bagi kaum perempuan Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya.

Demikian halnya, terkait dengan kebutuhan pokok rakyat. Ketika saya diberi kesempatan memimpin negeri ini, satu hal yang terus menjadi perjuangan saya, bahkan hingga saat ini, adalah pentingnya stabilitas harga kebutuhan pokok.

Ini menjadi salah satu tolak ukur bagi saya, apakah kita sudah berdaulat di bidang pangan, atau sebenarnya hanya bicara ketahanan pangan. Pilihan ideologis atas persoalan ini adalah bahwa negara harus berdaulat di bidang pangan. Negara harus memastikan kesediaan pangan yang cukup dengan harga terjangkau.

 Saya paham, hal ini bukanlah masalah sederhana. Diperlukan tekad politik yang kuat untuk berani menolak impor misalnya; Integrasi kebijakan hulu-hilir di sektor produksi dan distribusi pangan; serta adanya politik anggaran yang berpihak agar berbagai persoalan terkait dengan infrastruktur pertanian  dapat secepatnya diselesaikan.

Kepeloporan kaum perempuan di sektor ini sangatlah penting. Kaum Perempuan dengan seluruh daya kreasinya, mampu mengemas, ketersediaan sumber pangan yang bergizi dan bervariasi bagi keluarganya. Intermezo: harga kebutuhan pokok yang semakin tingi (beras, cabe dll) dan bagaimana berupaya menyajikan menu makanan yang murah dan bergizi dari sumber dalam negeri.

Hadirin yang saya muliakan,

Persoalan lain yang dihadapi kaum perempuan Indonesia adalah tingginya angka kematian Ibu yang melahirkan. Angka kematian bahkan melampaui target MDG’s yang mematok 102 per setiap 100 ribu kelahiran.

Sementara, di Indonesia  terjadi 359 kematian dari setiap 100 ribu kelahiran. Berdasarkan catatan dari BKKBN, angka kelahiran di Indonesia 4 sampai 5 juta setiap tahunnya.

Artinya, 1.436 saudara perempuan kita meninggal setiap tahun karena melahirkan. Bayangkan, lebih dari 69 tahun kita merdeka, dan Indonesia masih jauh tertinggal di dalam memberikan jaminan kehidupan bagi warga bangsanya.

Saudara-saudara,

Kita tidak bisa sekedar berbicara tentang tinginya angka kematian Ibu melahirkan ini. Diperlukan perubahan revolusioner mencakup aspek mental, adat istiadat, pendidikan, kesehatan, dan perhatian yang begitu besar terhadap Ibu-ibu hamil agar terpenuhilah seluruh gizi dan jaminan kesehatan yang diperlukan.

Atas persoalan ini, saya mengajak kaum perempuan Indonesia untuk menjadikan hal ini sebagai tugas sosial bersama, dan pada saat bersamaan memperbaiki pola pikir kaum perempuan Indonesia agar semakin sadar pada tugasnya sebagai penjaga keberlangsungan generasi bangsa.

Tugas ini, tentunya memerlukan dukungan dari tenaga kesehatan, yaitu para bidan.  Di Indonesia, lebih dari 50 persen kelahiran dibantu oleh bidan.

Kita kekurangan tenaga bidan. Namun, ada ketidakadilan yang diterima para bidan, dari mulai kontrak kerja berkepanjangan, cuti melahirkan tak sesuai aturan, hingga upah hanya 1,4 juta rupiah setiap bulannya. Jelas, ini tidak sesuai dengan beban dan resiko kerja!

Bidan-bidan berstatus kontrak dengan SK Pemerintah Pusat, saat ini sedang memperjuangkan nasib agar diangkat menjadi pegawai tetap negara.

Menurut saya, sudah seharusnya tuntutan tersebut dipenuhi. Mengingat profesionalisme dan masa pengabdian yang panjang dari mereka.

Saya mendukung perjuangan ini, dan mengajak anda semua untuk menyepakati Peringatan Hari Perempuan Internasional kali ini dengan satu tekad perjuangan: “Selamatkan Ibu Melahirkan, dan Selamatkan Bidan PTT!”

Memperjuangkan nasib Bidan PTT adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan menurunkan Angka Kematian Ibu melahirkan. Memperjuangkan Ibu melahirkan adalah memperjuangkan kehidupan bangsa.

Terakhir, saya serukan kepada kaum perempuan Indonesia di mana pun berada, di hari yang penuh rahmat Illahi ini, satukanlah hati, pikiran, jiwa raga dan semangatmu, bersatulah…! 

Bersatulah kaum perempuan Indonesia dalam satu gerbong gotong royong, dan dalam satu suara tarian pengabdian! Derita kemiskinan rakyat adalah gending semangat yang akan menjaga nyala obor gerak perjuangan kita. Jangan biarkan obor itu mati! Mengalunlah bersama dalam rampak barisan keyakinan: Allah Subhanahu Wa Ta’ ala, Tuhan Yang Maha Esa meridhoi perjuangan ini.

Saatnya perempuan bangkit menjadi bagian kekuatan bangsa. Kita membutuhkan kesadaran nasional, semangat nasional, perjuangan nasional!

Ketidakpedulian hanya akan membuat bangsa ini terseret arus ketidakadilan.  Ketidakpedulian hanya akan menggerus kaum perempuan dalam ketidakberdayaan. Ketidakpedulian hanya akan membuat Rakyat terkubur dalam pemiskinan struktural!

Kesejahteraan berkeadilan sosial, tidak jatuh dari langit seperti embun di waktu malam. Tetapi, itu adalah hasil perjuangan, perjuangan sebuah bangsa! Selamat Hari Perempuan Internasional, selamat berjuang!

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Damai Sejahtera bagi kita semua
Salom
Om santi santi santi om
Namo Buddhaya

Megawati Soekarnoputri







Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/CatatanLorcasz