WASHINGTON DC, - Rencana
penghentian siaran radio Voice of Amerika (VOA) seksi Indonesia mendapatkan
protes dari publik khususnya netizen dan para pendengar mereka di tanah air.
Bahkan lewat linimasa
twitter mereka mengungkapkan ketidaksetujuan mereka dengan tanda paga
#SaveVOAIndonesianRadio.
Seperti laman twitter
@Yan_Piris yang berkicau dalam bahasa Inggris yang isinya membandingkan
tindakan VOA dengan BBC dengan nasib yang sama namun BBC kini kembali aktif.
“2014 radio BBC kembali ke
Indonesia. Jika radio VOA dihentikan tahun 2015 berarti kemunduran,”kicaunya.
Selain berkicau, netizen
juga meluncurkan petisi online Charge.org dengan tajuk #SaveVOAIndonesianRadio
: Jangan Stop Siaran Radio Berbahasa Indonesia.
Dalam prolog dilaman petisi
ini pun menceritakan tentang sejarah VOA bahasa Indonesia yang dulu masih bernama
Seksi Bahasa Melayu.
Lewat VOA Indonesia inilah
dunia mengetahui ada negara baru merdeka yaitu Indonesia, serta masyarakat
negeri ini tahu sedang ada perang di Pasifik.
Awal mula kasus ini hingga
rame dalam linimas jejaring sosial karena Broadcasting Board of Governor (BBG)
selaku instansi pemerintah AS yang menaungi VOA mengajukan pemangkasan anggaran
ke Kongres untuk tahun anggaran 2016 yang berujung siaran VOAIndonesia akan
dihentikan dengan alasan sepi pendengar.
Dalam usulan pemangkasan
anggaran tidak hanya siaran Indonesia saja yang ditutup tetapi ada juga Laos
dan Afrika Tengah.
Sementara Afganistan dan
Zimbabwe mengurangi jam siaran mereka lantaran pemangkasan anggaran tersebut.
VOA sendiri disiarkan lebih
dari 45 bahasa yang berbeda diseluruh dunia dan yang tertua dalam siarannya
adalah bahasa Indonesia.
Di Indonesia sendiri, konten
siaran VOA disiarkan lebih dari 250 afiliasi yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.
Kontak Blog >
ervanca@gmail.com
Twitter.com/CatatanLorcasz