DAMASCUS, - Suhu yang
melanda kawasan Suriah hingga minus 30 celcius ini membuat kondisi rakyat
negeri itu semakin bertambah selain kondisi politik dan geografis negeri itu
yang tidak menentu.
Hingga tahun ke-5 masa
konflik kini, hampir dari setengah populasi penduduk Suriah (8 juta jiwa),
harus keluar dari rumah bahkan kota kelahiran mereka untuk mencari tempat yang
lebih aman dari kecamuk perang.
Sekitar 4 juta jiwa terpaksa
menyingkir keluar negeri, berlindung ke negara-negara tetangga di sekitar
Suriah. Dua ratus ribu orang meninggal dalam tragedi berkepanjangan ini.
Yang selamat dari amuk
konflik tak berarti juga aman dari keadaan. Musuh mereka bukan hanya rasa takut
dan keterancaman, tapi juga kondisi cuaca yang kini tengah hebat melanda hebat
kawasan.
Musim dingin dengan suhu
terburuk mencapai -3o celcius masih menyelimuti. Jangankan membeli baju hangat
dan selimut, untuk makan saja mereka terpaksa menanti uluran tangan yang
peduli.
Dengan kondisi seperti itu
membuat Hati mulia para pejuang Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK)
di Indonesia membuktikannya.
Atas donasi dari rakyat
Indonesia, yang sebagian besarnya dihimpun oleh para pejuang FSLDK, 1.433
keluarga pengungsi Suriah tak lagi kedinginan.
Sebagaimana informasi yang
diterima dari Desy Kurnia melalui email mengatakan meneruskan donasi FSLDK itu,
Aksi Cepat Tanggap (ACT) dibantu IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) mitra NGO dari
Turki, sejak 22 Januari hingga 6 Maret lalu, menjalankan program bantuan
bertajuk “Winter Aid” untuk membantu saudara-saudara di Suriah dengan
mendistribusikan 1.433 selimut di sejumlah pos-pos pengungsian di Suriah.
Distribusi selimut berukuran
190x220cm itu dilakukan di berbagai daerah di Suriah, diantaranya di Khan Al
Asal dan Kafarnaha, Aleppo; Abu Ad Dhuhur, Saraqib, Bidama, dan Alkastana, kota
Idlib; dan Qaalat Al Madeek, di provinsi Hama. Distribusi bantuan dari rakyat
Indonesia ini alhamdulillah mampu menerbitkan senyum dan raut berseri-seri saudara-saudara
di pengungsian.
Semoga bantuan selimut dan
cinta yang ada di dalamnya mampu menghangatkan tubuh serta hati mereka. Just
because it’s not happening here, doesn’t mean that it’s not happening. Let’s
ACT, Indonesia!
Dalam kesempatan ini juga,
pihak ACT memberikan beberapa informasi tentang kondisi terakhir dari Suriah.
Sampai dengan 7 Februari
2015, total korban tewas perang Suriah mencapai 215.518 jiwa. Sekitar 4 juta
orang mengungsi ke negara tetangga. Dan setengah dari populasi penduduknya, 8
juta jiwa, mengungsi keluar negeri.
Lebih dari 75% (diprediksi
sampai 83%) listrik di Suriah padam semenjak 4 tahun konflik. Peneliti China
menganalisa citra satelit malam hari di Suriah.
Di kota yang dikuasi oleh
pejuang atau menjadi lokasi perang antara rezim pemerintah dengan pejuang,
listrik nyaris padam 100%, seperti di Allepo contohnya yang padam sampai 97%.
Sedangkan di Damaskus yang dikuasai rezim Assad, listrik padam hanya sampai
35%.
Rezim Assad juga telah
membunuh 610 dokter dan tenaga medis selama 4 tahun perang. 139-nya disiksa dan
dibunuh. Rezim juga telah menyerang sebanyak 233 kali ke 183 rumah sakit dan
klinik menggunakan senjata berat.
Tnggal 15 Maret 2015
menandakan 4 tahun perang saudara di Suriah dan memasuki tahun ke-5. Dari 215
juta yang tewas, baru 176 ribu yang tercatat dan terdokumentasi.
IMF menyatakan perekonomian
Suria terjun bebas seperti 30 tahun yang lalu (1980’an). Mata uang Suriah
jatuh. Ekspor-impor turun 90%. Pengangguran mencapai lebih dari 50%.
Rata-rata dalam 4 tahun
terakhir: setiap 10 menit 1 orang Suriah tewas. Setiap 1 hari 9 anak Suriah
tewas. Sampai saat ini para pengungsi sangat membutuhkan bantuan bahan makanan,
pendidikan, dan kesehatan.
Kontak Blog >
ervanca@gmail.com
Twitter.com/CatatanLorcasz