Rabu, 14 Januari 2015

Ketika Perempuan Berhijab Merasa Galau

JAKARTA, - Banyak kalangan beranggapan bahwa perempuan yang menggunakan Hijab selalu dikaitkan dengan agama yang dianut termasuk tindak tanduknya dalam kehidupan.
Padahal banyak diantara para Hijabbers ini juga manusia pada umumnya yang mempunyai salah dalam apapun.

Hal ini yang coba disampaikan Sutradara Hanung Bramantyo dalam film terbarunya yang menampilkan fenomena perempuan berhijab.

Film yang menceritakan fenomena perempuan berhijab dengan realitasnya untuk menjadi pribadi yang lebih takwa dimana bisa khilaf pada awalnya kemudian belajar dari kesalahan tersebut.

Cerita ini berawal dari Sari (yang diperankan Zaskia Adya Mecca) bersama dengan Bia (Carissa Putri), Anin (Natasha Rizky) dan Tata (Tika Bravani) kelompok perempuan yang ingin menambah penghasilan namun harus mendapatkan pro dan kontra dari para suaminya kecuali Anin.

Bia adalah isteri dari aktor sineteron terkenal bernama Matnur (Nino Fernandez) memiliki bakat merancang busana.

Sementara Tata adalah isteri photographer, Ujul (Ananda Omesh) dengan latar belakang sebagai mantan aktivis dimasa kuliah dengan model jilbab turban.

Sedangkan  Sari dengan jilbab syar’I nya adalah istri dari seorang pria keturunan Arab, Gamal (Mike Lucock) yang konvensional dan ketat dalam urusan agama.

Hanya Anin yang tidak berjilbab namun berpacaran dengan Chaky (Dion Wiyoko) seorang sutradara film kontroversi.

Awal film ini, Sari dan sekawan menceritakan alasan mereka berhijab serta kisah awal mula bertemu lalu menikah dengan suami masing-masing.

Alasan peremuan berhijab tidak melulu karena mereka sadar hijab adalah perintah agama. Untuk mengisi kekosongan dan lebih mandiri, keempat perempuan ini membuka bisnis hijab online yang dijalankan secara diam-diam tanpa sepengetahuan para suami.

Tugas pun dibagi, Bia merancang busana, Sari mengelola keuangan serta Tata dan Anin yang mengurusi penjualan. Dalam tiga bulan perjalanan usaha ini bisnis mereka meroket dengan untung besar.

Akibat usaha ini, konflik pun bersua dalam keluarga mereka dimana para suami merasa penghasilan sebagai kepala keluarga tersaingi yang berdampak meninggalkan para istri mereka.

Menurut Hanung, filmnya memberikan pesan untuk menjadi modern seutuhnya perempuan muslim Indonesia ditarik dari kultur dan agama selalu menjadi persimpangan

“Untuk jadi modern seutuhnya perempuan muslim Indonesia ditarik oleh kultur dan agama. Menjadi konservatif dia pemalu karena takut ketinggalan zaman. Jadi selalu berada di perimpangan,”ucapnya.

Kalau dilihat judul film ini terkesan religus, serius namun yang didapat adalah humoris dan bisa dinikmati oleh siapa pun selain umat muslim.

Film ini pun bertutur jujur dan berani untuk menampilkan beragam alasan perempuan untuk berhijab yang boleh jadi anda akan dibuat geleng kepala karena memang nyata adanya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah kehidupan Sari dan kawan-kawan yang bertentangan dengan apa yang dikenakan yaitu Hijab seperti tidak jujur pada para suami mereka.

Dalam film dan adegan ini para pemain berakting seolah seperti sahabat dan keluarga sungguhan yang ada dalam dunia nyata.

Film ini akan beredar di jaringan bioskop mulai 15 Januari mendatang.



Kontak Blog > ervanca@gmail.com

Twitter.com/Lorcasz