JAKARTA,
- Banyak kalangan beranggapan bahwa perempuan yang menggunakan Hijab selalu
dikaitkan dengan agama yang dianut termasuk tindak tanduknya dalam kehidupan.
Padahal
banyak diantara para Hijabbers ini juga manusia pada umumnya yang mempunyai
salah dalam apapun.
Hal
ini yang coba disampaikan Sutradara Hanung Bramantyo dalam film terbarunya yang
menampilkan fenomena perempuan berhijab.
Film
yang menceritakan fenomena perempuan berhijab dengan realitasnya untuk menjadi
pribadi yang lebih takwa dimana bisa khilaf pada awalnya kemudian belajar dari
kesalahan tersebut.
Cerita
ini berawal dari Sari (yang diperankan Zaskia Adya Mecca) bersama dengan Bia
(Carissa Putri), Anin (Natasha Rizky) dan Tata (Tika Bravani) kelompok
perempuan yang ingin menambah penghasilan namun harus mendapatkan pro dan
kontra dari para suaminya kecuali Anin.
Bia
adalah isteri dari aktor sineteron terkenal bernama Matnur (Nino Fernandez)
memiliki bakat merancang busana.
Sementara
Tata adalah isteri photographer, Ujul (Ananda Omesh) dengan latar belakang
sebagai mantan aktivis dimasa kuliah dengan model jilbab turban.
Sedangkan Sari dengan jilbab syar’I nya adalah istri
dari seorang pria keturunan Arab, Gamal (Mike Lucock) yang konvensional dan
ketat dalam urusan agama.
Hanya
Anin yang tidak berjilbab namun berpacaran dengan Chaky (Dion Wiyoko) seorang
sutradara film kontroversi.
Awal
film ini, Sari dan sekawan menceritakan alasan mereka berhijab serta kisah awal
mula bertemu lalu menikah dengan suami masing-masing.
Alasan
peremuan berhijab tidak melulu karena mereka sadar hijab adalah perintah agama.
Untuk mengisi kekosongan dan lebih mandiri, keempat perempuan ini membuka
bisnis hijab online yang dijalankan secara diam-diam tanpa sepengetahuan para
suami.
Tugas
pun dibagi, Bia merancang busana, Sari mengelola keuangan serta Tata dan Anin
yang mengurusi penjualan. Dalam tiga bulan perjalanan usaha ini bisnis mereka
meroket dengan untung besar.
Akibat
usaha ini, konflik pun bersua dalam keluarga mereka dimana para suami merasa
penghasilan sebagai kepala keluarga tersaingi yang berdampak meninggalkan para
istri mereka.
Menurut
Hanung, filmnya memberikan pesan untuk menjadi modern seutuhnya perempuan
muslim Indonesia ditarik dari kultur dan agama selalu menjadi persimpangan
“Untuk
jadi modern seutuhnya perempuan muslim Indonesia ditarik oleh kultur dan agama.
Menjadi konservatif dia pemalu karena takut ketinggalan zaman. Jadi selalu
berada di perimpangan,”ucapnya.
Kalau
dilihat judul film ini terkesan religus, serius namun yang didapat adalah
humoris dan bisa dinikmati oleh siapa pun selain umat muslim.
Film
ini pun bertutur jujur dan berani untuk menampilkan beragam alasan perempuan
untuk berhijab yang boleh jadi anda akan dibuat geleng kepala karena memang
nyata adanya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah
satunya adalah kehidupan Sari dan kawan-kawan yang bertentangan dengan apa yang
dikenakan yaitu Hijab seperti tidak jujur pada para suami mereka.
Dalam
film dan adegan ini para pemain berakting seolah seperti sahabat dan keluarga
sungguhan yang ada dalam dunia nyata.
Film
ini akan beredar di jaringan bioskop mulai 15 Januari mendatang.
Kontak
Blog > ervanca@gmail.com
Twitter.com/Lorcasz