Minggu, 07 Oktober 2012

Berkunjung Ke “Kamar Mandi” Raja dan Selir



Masih dari Jogjakarta, setelah mengunjungi museum kereta keraton, w masih penasaran dengan isi dalaman keraton akhirnya memutuskan tetap ke keraton setelah bertanya dengan para penjaga museum kereta.

Akhirnya kami harus mengantre dengan para rombongan yang ternyata ada juga bule-bule sambil membawa anaknya menikmati keraton, setelah membayar IDR 5,000 untuk tiket masuk dan IDR 1,000 untuk ijin memhoto masuk juga ke pelataran keraton,








Sambil mengekor dengan para rombongan akhirnya w mendengarkan dari para pemandu tentang sejarah keraton, satu hal yang w bangga dari para pemandu ini adalah mereka bisa menguasai semua bahasa bahkan ketika itu w mendengarkan para pemandu ini menjelaskan dengan bahasa Belanda, Jepang dan Korea, salute dach buat para pemandu ini.



(yang di depan itu adalah ruangan pribadi Sultan untuk menerima tamu)











(Selot Pintu Gerbang Belakang Istana... Gede beenneerr yaakk)




Kembali ke topic,  semua sisi keraton dijelaskan oleh pemandu mulai dari bangunan tempat tinggal Sultan dan keluarga, bangunan tempat dimana Sultan menerima tamu mulai dari keperluan pribadi hingga tamu kenegaraan
Termasuk diantaranya tempat dimana Sultan menikmati alunan music dan tarian tradisional khas jawa dalam tanggalan tertentu dan itu tanpa ada sound system seperti saat ini

Bagi w apa yang w lihat ini adalah aset paling dan sangat berharga yang dimiliki oleh bangsa ini dan sudah seharusnya kita jaga jangan sampai juga negara lain yang menikmati dan memelihara sementara kita hanya sebagai bangsa pemalas dan budak

Benar ga ?!

( Pintu depan Taman Sari yang sekarang menjadi pintu Belakang )


 Setelah mengunjungi isi dari seluruh keraton, maka timbul rasa penasaran w tentang yang namanya Taman Sari yang konon menjadi salah satu tempat fenomnenal saat kawasan itu menjadi kerajaan, adakah yang tau apa itu Taman Sari ?!

Yap, Taman Sari adalah tempat dimana ke-30 selir Sultan biasa mandi dan tentunya Sultan banyak mitos dan cerita-cerita yang berkembang dimana kabarnya ketika Sultan datang ke sana maka ke-30 selir itu siap jiwa dan raganya untuk Sultan dan ketika Sultan melemparkan bunga ke kerumunan 30 selir itu dan jatuh kepada satu dari 30 itu maka selir itu BERHAK mandi dengan Sultan secara private dan tentunya melayani Sultan dalam hal ini kebutuhan biologis, itu kata para pemandu yang cerita ke w yaaa bukan w yang mengarang hehehee..



( Pintu Belakang Taman Sari yang sekarang menjadi Pintu Masuk )


Sebelum memasuki Taman Sari, seperti biasa w diharuskan membeli dua tiket, satu tiket IDR 3,000 untuk masuk ke dalam dan IDR 1,000 untuk memhoto apa yang ada didalam. Setelah membayar tiba-tiba w disamperin ama salah pemandu disana untuk menjelaskan tentang Taman Sari padahal w sama sekali paling malas ketika lagi menikmati tiba-tiba ada yang datang macam SPG alay (tau donk maksudnya yang selalu ngemenk gini, Siang kaka, Silakan Kaka… bener ga ?!)

Akhirnya dengan terpaksa w didampingi oleh sang pemandu yang ternyata masih bagian dari lingkaran keraton atau abdi dalem.


(Sebelah kiri adalah kolam dan tempat menaruh baju dan peralatan lain untuk anak-anak Sultan)





( Di kolam inilah ke-30 Selir Sultan mandi bersama dan menunggu bunga yang akan dilemparkan ke kolam, jika ada yang menangkap maka dia berhak untuk mandi dengan Sultan di kolam khusus) 


Tempat yang pertama di jelasi adalah kolam yang menjadi tempat ke-30 selir keraton menghabiskan waktunya untuk badannya serta persiapan ketika Sultan ingin merasakan tubuh mereka dengan cara mandi bersama. Kolam itu sendiri ketika w lihat sangat besar sekali dan memang mampu untuk menampung para selir itu.

Setelah diberi tahu tempat ke-30 selir Sultan, sang pemandu mengajak w ke tempat dimana Sultan menghabiskan waktu dengan selir pilihan dirinya dengan cara diundi melalui lemparan bunga siapa yang mendapatkan maka mereka yang berhak mandi atau dimandikan Sultan serta tidur bersama selama Sultan mau dan itu kolamnya sangat besar sekali,,,



( Dikolam inilah Sultan dan Selir yang menerima dari lemparan bunga akan mandi bersama )

Kirain w jenis SPA itu baru aja mungkin ketika jaman 80-an hingga modern saat ini, ternyata Sultan Jogja pun pernah merasakan spa bahkan lebih alami spanya hanya dengan bermodalkan dipan atau kayu besar beberapa buah yang dibawah dilubangi beberapa buah untuk memasukan arang untuk memanaskan tempat itu, silakan lihat gambar di bawah ini…





( Spa ala Keraton Jogjakarta )




( Tempat menaruh baju dan peralatan lainnya )


Setelah mengunjungi kolam Taman Sari dengan menjelaskan perihal pintu masuk dan keluar yang berubah, w di tawari oleh pemandu apakah mau  berkeliling Taman Sari termasuk diantaranya adanya Masjid dibawah laut.
Ketika diberitahu ada Masjid di bawah laut, w langsung kaget dan penasaran bagaimana bisa ada Masjid yang berada di bawah laut.


Akhirnya w memutuskan untuk melihat apa yang ditawarkan oleh sang pemandu dengan keluar dari pelataran Taman Sari, w langsung menuju ke sebuah desa yang ternyata di sebut sebagai desa Internet karena disana banyak sekali akses internet, cukup lama kami berjalan sambil mendengarkan cerita asal muasal taman sari ini dimana sekeliling taman sari ini adalah danau buatan yang hampir kurang lebih luasnya sekitar 4,000 m2 dan ketika Sultan akan ke tempat ini pun dari Keraton menggunakan kereta kuda yang disambung dengan perahu.

Sebelum ke tempat Masjid dibawah laut ini, w diajak untuk melihat dapur yang digunakan para prajurit, abdil dalem dan tentunya Sultan untuk menikmati sajian makan entah pagi, siang atau malam. Di dekat dapur itu pun w dikasih lihat tempat di mana Sultan biasa bersemedi dan berbicara dengan sang penguasa laut selatan Jawa (tau donk siapa sosok itu) namun tempat itu sudah tidak digunakan lagi walaupun sang Sultan masih terus bersemedi dan berbicara dengan sang penguasa Laut Selatan Jawa walau tidak sering seperti yang dilakukan oleh leluhur sang Sultan.



( Disinilah Sultan dan beberapa kerabatnya melakukan semedi dengan cara berendam setengah dada bahkan untuk berbicara dengan sang penguasa laut selatan Jawa, tempat ini sekarang sudah tidak lagi digunakan )


Akhirnya w dan pemandu sampai juga di Masjid bawah laut yang dimaksud dan asli keren abies arsitekturnya dimana ada lima titik yang menandakan waktu dalam Islam, dan yang unik dari bangunan ini adalah tempat untuk mengumandangkan waktu sholat itu tidak menggunakan sound system jadi secara alamiah suara dari orang itu akan menggema dengan sendirinya, heeebbaatttt…


(Tempat untuk mengumandangkan suara Adzan)


Namun sayang ketika melihat ruangan masjid ini w harus miris melihat ketika ada beberapa BULE yang tanpa mengerti dengan enaknya beristirahat dan sambil membaca Koran di sebuah tempat, w tau sich perjalanan menuju ke sana itu lumayan berat karena harus naik dan turun puluhan tangga tapi apa ga bisa sopan sedikit kalau memang kelelahan, bener ga ?!




(Kelakuan...kelakuan...)

Dari tangga yang menunjukkan waktu Sholat itu w iseng memotret keindahan langit Jogjakarta seperti gambar di bawah ini.







Setelah w melihat dan menelusuri ini w hanya mengagumi akan keindahan ini semua yang dibangun tanpa adanya seperti sekarang, ide atau konsultasi kepada arsitek atau ahli desain interior seharusnya kita bangga akan budaya ini dan melestarikannya bagaimana pun nantinya ini akan dipertanyakan oleh anak-cucu ketika suatu waktu akan menanyakan kepada kita semua….

Menikmati Keindahan Benteng Vredeburg


Hari pertama setelah tiba di kota Jogjakarta pada pukul 02.00 dini hari setelah berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat Pkl 17.00 langsung pasang rencana mau kemana dan tujuan awal adalah kawasan Malioboro yang terkondang itu.


Dengan menggunakan jasa becak dari sebuah rumah di Gang Leo dekat dengan museum sandi negara, w menelusuri jalan yang dinihari tadi w lewati, nampak sangat berbeda sekali jalan di Jogja ini dengan Jakarta apakah karena hari sabtu namun setelah bertanya-tanya ternyata hari kerja pun situasi jalan di kota ini sama dengan yang w alami saat ini, alangkah enaknya warga kota ini

Begitu sampai didepan Kantor Pos Besar Jogjakarta, w langsung dengan spontan setelah membayar uang becak langsung photo tugu yang ada dihadapan w yaitu tugu monument serangan umum 1 maret yang kondang itu (jaman orba) huahahaha..


Karena tidak tahu pintu masuk nya dimana akhirnya w memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mata w secara tidak sengaja melirik ke arah samping kiri yaitu ada bangunan dengan tulisan di atas tengah Vrendenburg.


W masih bingung gedung apa ini setelah berpikir agak lama, w baru tahu kalau ini adalah bekas benteng Belanda ketika jaman penjajahan dan peradaban masehi


Setelah membayar (seperti biasa) IDR 3,000 untuk tiket masuk dan IDR 1,000 untuk photo akhirnya w masuk juga ke benteng ini, hal yang pertama w lakukan adalah memasuki beberapa ruangan yang ada di kawasan tersebut.


Ruangan pertama yang masuki adalah ruangan diorama sejarah dimana ketika w masuk sudah disambut dengan mesin pencetak Koran dari media Jogja yang terkenal yaitu Kedaulatan Rakyat yang masih terlihat jadul namun memliki sejarah dari Koran tersebut walau sekarang sudah eranya digital namun ketika melihat itu maka kita bisa lihat bagaimana sejarahnya bener ga ?!


Setelah melihat mesin pencetak koran milik Kedaulatan Rakyat, w langsung menuju kebeberapa diorama seperti ketika Ir Soekarno dan Hatta yang datang ke Jogja untuk menjadikan negara tersebut menjadi ibukota sementara.


Atau diorama-diorama seputar kegiatan bersejarah yang lahir dari kota Jogjakarta ini, seperti lahirnya Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara atau tentang rapat besar wanita Indonesia, pertempuran 1 Maret dan masih banyak lagi sejarah Indonesia yang lahir di kota ini dan dijadikan dioramanya.








Di benteng ini juga terdapat beberapa peta jaman kemerdekaan, bahkan ada satu gambar yang menunjukkan kegiatan ayahanda dari Sri Sultan Hamengkubowono yaitu Sri Sultan HB ke-IX dan juga Ir Soekarno dengan para koleganya dari berbagai bidang baik dari dalam maupun luar negeri.





Sabtu, 06 Oktober 2012

Ketika Kumpulan Kereta Berbicara


Kisah ini dimulai ketika pada Minggu Pagi (9/9) setelah semalaman menikmati suasana malam daripada kawasan Malioboro dan ingin memulai petualangan di rumah Sultan Hamengkubuwono ke-IX maka terbersit keinginan untuk kembali menjelajah kawasan Istana.

Berangkat dari sebuah rumah di Gang Leo, dekat museum sandi negara, w menelusuri kembali jalanan di Jogjakarta dan sampailah di lampu merah setelah menumpang bus nomor empat setelah sana-sini bertanya akhirnya ketemu juga jalan yang menuju kawasan Istana.

Setelah sampai di depan alun-alun depan Istana ternyata berbarengan dengan kegiatan ulangtahun stasiun televise tertua dinegara ini, TVRI dan TVRI Jogja yang menggelar parade sepeda santai yang saat itu sudah selesai.

Setelah melewati celah-celah para pengendara sepeda dan motor sampai juga di pintu gerbang Istana namun sebelum masuk harus membayar sejumlah tiket yaitu IDR 3000 untuk tiket masuk dan IDR 1000 untuk photo, namun yang akan didapat hanya berupa pelataran teras saja tidak temasuk didalam akhirnya w memutuskan untuk pergi ke museum kereta kerajaan yang tidak jauh dari sana persisnya disamping keraton.

Di museum kereta ini, w kagum melihat isi museum yang menampilkan beberapa kereta kencana yang digunakan anggota kerajaan, walau kagum namun sebenarnya agak miris jika melihat ruangannya yang hampir tidak layak dan tidak diperhatikan seperti ada beberapa yang temboknya sudah rusak bahkan berdebu atau ada sebuah photo yang w lihat ketika diperhatikan ternyata kacanya retak dan tetap berdebu namun ya bagaimana lagi secara negara tidak mungkin bisa diminta karena sudah banyak beban walau itu memang kewajiban mereka untuk memelihara, jadi inget ucapan bung Karno, JAS MERAH, Jangan Sekali-kali melupakan sejarah, bener ga ?!


Setelah kekesalan w terhadap situasi museum tersebut, w lebih kesal lagi adalah tidak konsistennya perangkat dengan yang ada, kenapa w bilang gitu, sekarang coba lihat gambar di bawah ini dimana pada di depan dinding ada tulisan dilarang merok, tetapi nyatanya salah satu staff dari museum tersebut melanggarnya dengan santainya menikmati rokok sambil mengutak-atik telepon selularnya !! ciri orang Indonesia banget....






Inilah gambar-gambar yang w ambil dari museum kereta keraton, selamat menikmati














Semalam di Jogja



Bukan maksud norak apa pamer tapi inilah pertama kalinya ke luar dari kota Bekasi yang selama ini w tempati sejak tahun 1984.

Berangkat dari Gambir pukul 16.30 menempuh perjalanan selama 8 jam lebih dan sampai di kota Jogjakarta pada pukul 01.30 dinihari.

Hanya tidur dari pukul 3.30 dan bangun pukul 7.30, w memulai perjalanan ngobrak-abrik kota Jogjakarta yang selama ini hanya w baca dan denger .

Tempat pertama adalah mengunjungi sekolah khusus ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) Samara yang berada tidak jauh dari Kebun Binatang Gembira Loka, ditempat itu w melihat sarana sekolah yang difasilitasi oleh Kemdiknas pusat.

Melihat fasilitas sekolah tersebut ibarat dua sisi mata uang, dimana  satu sisi ada kebanggaan karena negara dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih punya nurani untuk memberikan fasilitas tersebut walaupun secara ruang tidak layak dari segi kesehatan dan lingkungan karena gedung tersebut beratap kan seng bukan genteng pada lazimnya.

Selepas dari sekolah tersebut, w berangkat menuju maskotnya Jogjakarta yang tidak lain tidak bukan adalah kawasan Maliobro, tapi sebelum menginjakan dan menjelajah layaknya bocah petualang, w mampir dulu ke benteng belanda, yaitu Vredenburg (lengkapnya ada di kisah selanjutnya)

Setelah berkeliling benteng tersebut hingga atas dan menemukan sepasang cah ayu ama cah lanang pake baju pramuka sedang memadu kasih (ciieee) atau ngadem ya di bawah pohon rindang.

Keluar dari Benteng Vrendenburg, langsung menyusuri hiruk pikuknya jalan Malioboro yang tersohor di dunia (mungkin juga) akherat hehehe.. berbagai macam baju batik, baju lucu2an dan aksesori tumpah se-tumpahnya di pinggir jalan ini dan tidak ada matenya ini jalan.

Akhirnya hari pertama di Jogja tepatnya di Malioboro hingga pukul 21.00 dan kembali ke rumah yang berada di Gang Leo dekat Asrama Mahasiswa asal Sulawesi Tenggara dengan menggunakan becak khas sambil merasakan malamnya kota Jogja, melihat denyut nadi kehidupan warga Jogja ketika malam hari dimana beda sekali dengan Jakarta.

Sampai disini dulu ya pembuka perjalanan ke Jogjakarta dan selamat menikmati tulisan-tulisan saya ketika berada di kota yang benar-benar KHUSUS, ISTIMEWA dan dilestarikan dari apapun termasuk diantaranya adanya pemisahan jabatan antara Sultan sebagai pemegang Jogjakarta dan Jogjakarta sebagai Propinsi.


Jogjakarta, 080912 

Rabu, 12 September 2012

Morotai, Awal Dari Hubungan RI-AS

Mungkin sebagian dari kita tidak tahu apa dan dimana Pulau Morotai tersebut, namun kawasan ini memiliki histori yang mendalam dan awal hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat. 

Menurut Kolonel William Davis dari MacArthur Memorial Museum mengatakan bahwa Morotai bukan seperti Iwo Jima tetapi peran dari daerah tersebut sangat penting yaitu sangat vital untuk kemenangan sekutu di perang pasifik termasuk dalam pembebasan Filipina dan Kalimantan serta memungkinkan sekutu memotong persediaan logistic untuk Jepang. 

“Morotai adalah sangat vital untuk kemenangan sekutu di Perang Pasifik termasuk dalam pembebasan Filipina dan Kalimantan serta untuk memotong persediaan vital untuk tentara Jepang yang berkekuatan sekitar 200 ribu orang,” ucapnya dalam sebuah diskusi yang diadakan di Pusat Kebudayaan Digital Amerika Serikat, @atamerica, Jakarta, Senin (10/9) 

Dalam sejarah Morotai sendiri setidaknya adalah dua tokoh yang sangat berjasa bagi kedua negara yaitu Petit Muharto Kartodirdjo serta Bobby Freeber dimana kedua orang ini turut andil dalam perjuangan kemerdekaan termasuk diantaranya merintis cikal bakal lahirnya Angkatan Udara Republik Indonesia. 

Sebagai informasi, Sejarah itu bermula pada September 1944, ketika Jenderal Douglas MacArthur membawa ratusan pesawat Sekutu ke Morotai. MacArthur memilih pulau itu karena posisinya sangat dekat dengan Filipina dan berada di sisi Samudera Pasifik. Dalam waktu tiga bulan Morotai menjadi pulau militer. 

Sebagai pusat konsolidasi pasukan Divisi VII Angkatan Perang Amerika Serikat yang tengah menaklukkan Jepang, MacArthur memboyong 3.000 pesawat tempur sekutu, terdiri dari pesawat angkut, pengebom, dan 63 batalion tempur ke Morotai. 

Hasilnya, Amerika dan Sekutu berhasil melumpuhkan Jepang melalui Filipina. Peninggalan Perang Dunia II tidak hanya landasan pacu. Di Pulau Zum Zum, dekat dengan Morotai, terdapat bungker tentara Amerika Serikat. 

Dulu bungker ini menjadi tempat persembunyian senjata dan tentara Amerika. Sedangkan di antara hutan mangrove terdapat gua tempat tentara Jepang bertahan.

@atamerica, 100912

Petit Muharto Kartodirjo dan Bobby Freeber, Tokoh Dibalik Hubungan RI-AS

Mungkin hingga kini tidak ada yang mengenal siapa dan apa peranan dari dua tokoh beda kewarganegaraan yaitu Petit Muharto Kartodirjo dan Bobby Freeber namun dari kedua tokoh ini akan terkuak tentang hubungan antar negara yaitu Amerika Serikat dan Indonesia. 

Sebagaimana di ceritakan oleh sang Putra Petit Muharto Kartodirdjo, Eko Muhatma Kartodirdjo, awal mula bertemua dan bersahabat ayahnya dengan Bobby Freeber dimulai ketika di Singapura untuk membujuk beberapa maskapai penerbangan untuk terbang ke Indonesia termasuk diantaranya CALI (Philipina), Cathay Pasific (Hongkong), South Eastern Airways. 

“Ayah saya bertemu Bobby Freeber di Singapura ketika itu sedang membujuk beberapa maskapai untuk terbang ke Indonesia,dan Bobby Freeber bekerja sebagai pilot carter pada CALI” ucapnya ketika berbicara dalam sebuah diskusi di Pusat Budaya Digital Amerika Serikat, @atamerica, Jakarta, Senin (10/9) 

Menurut Eko, ayahnya yang memulai sekolah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini pada tahun 1940 dan masuk Akademi Militer pada 1946 mengatakan melakukan beberapa kali penerbangan dengan Bobby, Petit baru menyadari tampaknya Bobby ikut merasakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan merasa patut mendukung. 

Pada 6 Juni 1947, Bobby membeli pesawat Douglas C-47. Pesawat milik Bobby tersebut kemudian dicarter oleh AURI dan dengan saran Petit, diberi nomor registrasi RI002. Persahabatan itu tetap terjalin walaupun secara fisik tidak memungkinkan dimana Pada tanggal 1Oktober 1948, RI002 terbang ke Bukit Tinggi. Pesawat itu mengangkut 20 kg emas dari pertambangan Cikoto bersama muatan lain. Emas tersebut akan digunakan untuk membeli pesawat baru bagi Indonesia. 
Pesawat tersebut direncanakan terbang dari Yogyakarta ke Gorda lalu Tanjung Karang dan Bukit Tinggi diawaki oleh kapten dan pilot Bobby Freeberg, Ko-pilot Bambang Saptoadji, ahli teknik Sumadi, operator radio Suryatman, ko-pilot kedua Santoso dan wakil Bupati Banten, Samaun Bakri. 

Petit yang waktu itu tidak ikut penerbangan tersebut menanti kepulangan sahabat karibnya Bobby, ia berharap Bobby dapat menghadiri pernikahannya. 

Namun, Bobby tak kunjung datang, R1002 bagai hilang ditelan bumi. Baru 30 tahun kemudian, pada tanggal 7 April 1978, dua orang petani dari Sumatera yang tengah merambah hutan di gunung Punggur di bagian utara dari Lampung menemukan reruntuhan R1002. 

Petit Muharto Kartodirdjo dan Bobby Earl Freeberg telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan juga pendiri penerbangan militer di Indonesia. Bahkan Petit tercatat sebagai Atase Militer Udara pertama di Kedutaan Besar RI untuk Philipina pada periode 1955-1958 

Hingga akhir hayatnya pada tahun 2000, Petit masih terus mencari keberadaan sahabat sejatinya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Petit Muharto Kartodirdjo dan Bobby Earl Freeberg adalah laki-laki pemberani dan idealis, yang rela berkorban demi kejayaan Indonesia. 

Namun sayang, sampai detik ini keduanya belum pernah menerima penghargaan apapun atas jasa-jasanya dari asal negara mereka. 

@atamerica 100912

Minggu, 01 Juli 2012

Memang Kondom itu Salah Apa ?!

Ilustrasi -  (c)Catatanlorcasz
Seperti menjadi kebiasaan penulis sebelum melakukan penulisan selalu menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang penulis buat membuat sebagian pembaca merasa tersinggung atau penulis dianggap menista atau apalah, apa yang penulis tulis adalah murni dari pendapat penulis terkait masalah yang penulis lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf. 

Beberapa minggu terakhir kita dikejutkan dengan adanya ucapan dari seseorang yang membuat beberapa kalangan panas kuping dan menganggap ketika kebijakan itu dijalankan berarti melegalkan suatu norma yang tidak sesuai dengan negara. 

Adalah ucapan dari Menteri Kesehatan RI yang baru saja dilantik menggantikan pejabat lama yang wafat karena sakit paru-paru yaitu Nafsiah Mboi yang mengeluarkan pernyataan bahwa akan ada pembagian kondom secara cuma-cuma kepada kalangan anak muda. 

Akibat pernyataan yang entah resmi atau tidak soal pembagian kondom ini membuat beberapa kalangan terutama kalangan agamais protes keras, dengan alasan tidak sesuai dengan norma sosial dan ketimuran Indonesia serta jika kalau ini benar dijalankan berarti Pemerintah RI melegalkan seks bebas. Akhirnya isu itu dibantahkan oleh Menteri Nafsiah ketika bertemu dengan para pendemo dari Forum Umat Islam (FUI) di Kementerian Kesehatan RI, Kuningan- Jakarta Sabtu (30/6) 

"Tidak benar ada pernyataan akan membagi-bagikan kondom kepada remaja. Kembali saya tegaskan tidak ada kondomisasi di Indonesia," ujarnya. 

Terlepas dari kontroversi itu sendiri, pertanyaan sekarang adalah apa salah kondom sehingga diperbincangkan banyak pihak layaknya selebritis papan atas. 

Kalau penulis ditanya apakah perlu kondom dibagi-bagikan kepada masyarakat terutama kaum remaja ? penulis kira perlu lah kenapa perlu, ada beberapa pertanyaan yang harus kita refleksikan dalam nurani kita. 

Pertanyaan itu adalah, pernahkah ketika waktu remaja kita diberikan pendidikan seksual secara kesehatan dan ilmiah dari orangtua kita dalam suasana seperti ketika makan atau nonton televisi bersama, terutama apa fungsi kondom, fungsi (maaf) penis, kenapa (maaf) penis bisa ereksi, kenapa wanita punya payudara, pernah kah ? 

Pasti jawabannya tidak pernah, iya kan ?! Justru seperti inilah kenapa beberapa tahun lalu ada sebuah survey (penulis lupa tahun dan sumber yang melakukan survey) bahwa hampir 75 persen PEREMPUAN USIA PELAJAR di Yogyakarta TIDAK PERAWAN, sekali lagi TIDAK PERAWAN ?! pertanyaan sekarang adalah, bagaimana bisa mereka bisa tidak perawan, darimana mereka bisa melakukan itu ?! silakan anda prediksi sendiri jika mengacu pertanyaan penulis di atas. 

Menurut penulis, kita jangan lah jadi manusia munafik, SOK berkata “ kita kan budaya timur”, baiklah budaya timur tetapi kalau kayak kasus 75 persen pelajar perempuan tidak perawan lagi apakah ini masih dikatakan budaya timur ? 

Penulis sangat mengakui kok kalau negara ini isinya manusia-manusia munafik, kita bisa lihat bagaimana seorang pemimpin redaksi majalah dewasa yang beberapa tahun lalu sempat heboh karena di protes oleh organisasi masyarakat yang berlabel AGAMA dimana selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam hal ini muslim dan membuat masyarakat geram tetapi nyatanya apa ?! 

Lewat kicauan di akun microblogging-nya, sang pemred ini membeberkan busuknya organisasi ini dimana mereka menipu dengan mengajak damai namun ada beberapa syarat yang mereka minta, akhirnya dikabulkan oleh sang pemred dan tercengang lah dirinya dimana manusia-manusia dari organisasi minta dibayarin naik Haji dan berlibur ke Bali, Sesampainya di Bali, mereka tanpa aling-aling meminta berkunjung ke klub malam, pesan minuman alcohol merek internasional yang dikenal oleh penikmat minuman bahkan mereka tidak segan-segan meminta WANITA untuk menemani mereka dan menganggap WANITA-WANITA BULE TIDAK LEBIH SEPERTI (maaf) PEREK ! 

Singkat cerita apa yang mereka tawarkan ternyata bohong belaka dan sang pemred harus jalani hukuman dan baru dibebaskan beberapa bulan lalu.. Inikah yang disebut budaya timur dan menjunjung agama ?! 

Menurut penulis, sudah lah entah itu benar kondom itu dibagi-bagikan kepada kalangan remaja, biarlah mereka yang menentukan sendiri mau diapakan ketika kondom itu diberikan kepada mereka kenapa juga kita yang ribut, benar tidak ?! 

Yang harus diperhatikan sekarang untuk masyarakat dan juga negara dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI adalah membuat kurikulum tentang pendidikan seks, walau dibilang ini akan jadi kontroversi tetapi harus karena kita detik ini tidak punya kurikulum atau patokan dasar dan wajib tentang pendidikan seks walau nantinya akan ditentang. 

Apakah nanti kondom akan dibagikan kepada remaja atau tidak kita lihat saja nanti, namun yang menjadi renungan kembali adalah, banyak orang mengatakan segala sesuatu didunia ini diawali dari keluarga, lantas apakah ketika anaknya hamil diluar nikah, atau tidak perawan karena faktor keluarga yang tidak bereas, sementara keluarganya dari sang anak TIDAK PERNAH mengajarkan tentang pendidikan seks, lantas mereka mendapatkan darimana ?! 

Jangan salahkan teman mereka atau femonema teknologi seperti facebook, twitter atau video game tapi tanyakan kepada orangtuanya apa yang mereka telah lakukan kepada anak mereka terutama pendidikan sex jangan cuma BISA-nya BERMAIN DIRANJANG dengan hebat tapi ga bisa menjelaskan artian sex dalam kajian ilmiah dan kesehatan !! 

Taman Galaxy, 01072012 00:25