Jumat, 14 Februari 2014

Kisah Jurnalis TIDAK CERDAS, MUNAFIK dan SOK TAU (Part I)

Sebelumnya w mau minta maaf kalau ditulisan ini atau judul nya menyinggung kalian terutama para kolega w tetapi itulah fakta yang ada dan nyata.

W nulis ini karena melihat situasi yang terjadi sudah tidak layak lagi apalagi ini terkait dengan tugas jurnalis namun terselip ego dari pribadi tersebut.

Ini berkisah seputar tentang pemberitaan media tetangga soal penamaan kapal perang Indonesia yang menurut tetangga sangat mengiris penduduk tersebut (w tidak akan menuliskan detail karena kalian semua udah pada tahu kan sejarahnya)

Ketika ini bergejolak tiba-tiba ada seorang jurnalis (tidak perlu menuliskan nama dan asal media, kembali ke soal brand dan takut tercemar namanya walau dimata w dia udah tercemar melebihi polusi di sungai Ciliwung, uuppss)

Entah karena nasionalis Indonesianya sangat tinggi atau sok karena senior ga ada angin ga ada ujan tiba-tiba ngajakin untuk tidak meliput kegiatan menteri karena tindakan menteri tersebut tidak melayani permintaan beberapa jurnalis dalam negeri dan memilih eksklusif media internasional termasuk negara yang tidak menerima penamaan kapal tersebut.

Karena tindakan TIDAK CERDAS, MUNAFIK dan SOK TAU jurnalis ini akhirnya menimbulkan situasi sendiri dikalangan komunias jurnalis tersebut, namun w melihat, membacanya dengan ketawa ngakak

Kenapa ketawa ngakak, karena w melihat ini jurnalis tidak tahu dan tidak paham (walau kalo dilihat dari muke dan dekat hahahihi dengan pejabat sudah senior) bahwa sang menteri ini sedang mencoba memperbaiki atau merendahkan tingkat emosi warga negara tersebut karena kasus ini bukan karena media bule lebih asik atau media lokal agak lebay tapi lebih ke brand yaitu Indonesia ke manca negara

Kita bisa lihat ketika tahun 1997 aksi 27 Juli atau Perisitwa kerusuhan Mei 98, bom sana-sini termasuk Bali, malam natal bagaimana media internasional menulis itu semua tentang Indonesia, apakah ada yang positif dalam hal mengajak masyarakat internasional untuk datang dan menikmati Indonesia ? TIDAK !

Hampir semua media internasional itu menulis negative dan tidak-tidak soal Indonesia, bahkan beberapa Kedutaan hingga kementerian luar negeri negara-negara asing sepakat satu suara mengeluarkan kebijakan untuk tidak bepergian ke Indonesia, lantas apakah media di Indonesia khususnya desk Internasional memuat tulisan soal “pembelaan” Indonesia ketika kejadian itu kepada masyarakat Internasional yang tinggal di Indonesia ?! TIDAK !

Kalau membaca apa yang w tulis di atas, w ataupun kalian yang bertemu dengan MANUSIA ini bertanya apakah pantas dia melakukan kegiatan menolak meliput (baca:boikot) kegiatan kementerian yang berkaitan dengan hubungan Indonesia dengan dunia ?! HANYA ORANG TOLOL, BODOH saja yang mau mengikuti MANUSIA ini !!

Padahal dia ndak sadar kalau akibat aksi ini bisa merusak citra dia yang pernah mendapatkan predikat TERBAIK seharusnya kalau dia mau boikot berita kan bisa donk dengan cara BALIKIN PIAGAM yang pernah dia terima yang disaksikan banyak orang dan terekam oleh kamera televisi sebagai bentuk proses dia supaya insitusi plat merah itu SADAR dan tidak mengulangi perbuatannya, tapi NYATA nya sampe detik ini ndak ada berita tuch soal kembali-mengembalikan piagam karena aksi dia ini (ketauan lah MUNAFIK nya dia)

Wajar kalau menteri atau pejabat lainn negara ini memberikan tempat khusus kepada media asing untuk memberikan citra (walaupun kita tahu kondisi media asing itu) Indonesia kepada dunia luar, daripada media lokal yang bisanya cuma mengkritik tanpa ada solusi membangun, memojokkan tanpa ada memberikan kecerdasan kepada masyarakatnya, bener ndak ?!

Walau w pun ndak tahu apakah aksi provokator ini sudah dijalankan atau belum karena w saat ini pun untuk sementara tidak berada dalam posisi jurnalis karena mendapatkan promosi dari kantor w untuk mengurusi sebuah yayasan sebagai Communication Corporate.

SALAM TOLOL buat Jurnalis yang ikutin apa yang di ajaki oleh Jurnalis (yang katanya) senior !

Taman Pejambon, 140214           


@Lorcasz