Sabtu, 10 Mei 2014

Negara Ga Punya Nurani itu Bernama Korea Utara (Bagian II)


Kalau udah baca tulisan w tentang judul yang sama bagian satu maka ini adalah lanjutan dari acara yang w datangin

Silakan kita lanjutan, jadi acara ini terus berlangsung tapi untuk diskusi w ndak ikut karena pikir w soal kasus ini pasti akan banyak orang berbicara tetapi faktanya tetap berjalan ditempat.

Tapi w memilih untuk melihat Korea Utara dari sisi lain tanpa ada unsur diskusi atau politisasi yaitu nonton film tentang kehidupan warga Korea Utara yang memprihatinkan.

Kembali ke acara akhirnya w sama cwek w pun nonton film tentang Korea Utara yang berjudul Crossing.


Acaranya sendiri mulai pukul 18.30 namun sebelumnya ada pertemuan dengan jajaran Direktur Permuseuman (project kantor) setelah itu jemput cewek di Hoteal Atlet Century karena dia ada acara komunitas dan pekerjaannya.

Setelah ketemu dan jemput akhirnya w ama cewek w pun pergi ke Gallery Cemara di kawasan belakang Sarinah-Thamrin.

Setelah turun di tempat kejadian, karena masih ada waktu w dan cewek w pun duduk di pelataran parkir Gallery Cemara sambil menunggu w pun mengeluarkan laptop untuk pindahin gambar dan video yang belum sempat.

Sementara cewek w pun terima telepon dari salah satu pasien barunya, cukup lama dia berbicara dan w pun memindahkan akhirnya w dan cewek w masuk ke dalam.

Begitu di dalam w pun melihat lagi gambar-gambar yang menjadi ilustrasi kehidupan di sana, karena w pun udah melihat akhirnya w memilih duduk dan cewek w lah yang melihat-lihat cuplikan gambar disana.

Cukup lama w dan cewek w menunggu dan akhirnya pukul 19.00 w naik ke atas untuk melihat film tersebut namun tetap delay.

Setelah lama berkata sambutan dari berbagai pihaknya, akhirnya pelem Crossing sendiri diputar dan jujur w baru tahu kalau ada pelem tentang Korea Utara walau itu yang produksi adalah Korea Selatan.

Jadi ceritanya tentang sebuah keluarga warga negara Korea Utara dengan satu anak, pekerjaan c Bapak yang bernama Kim Yong Soo  adalah pekerja tambang batu bara yang menjadi rutinitas mereka








Bahkan ketika istirahat pun Kim Yong Soo dan teman-teman bermain sepakbola dengan diawasi oleh tentara hingga ada seorang rekannya mengajaknya untuk bergabung untuk sebuah event

Namun dibalik kinerja sang suami tersimpan kehidupan yang menjadi ciri khas dari masyarakat Korea Utara yaitu hidup dalam kesederahaan hingga kekurangan pangan

Ini bisa dibuktikan dengan sebuah adegan ketika keluarga ini sedang memakan beras mereka dalam panci penyimpanan menipis dan tragisnya  adalah ada adegan dimana sang ayah bingung memikirkan bagaimana agar bisa makan tiba-tiba dirinya melihat anjing kecil putih mereka (mirip banget kayak guguk piaran dirumah w, Nobel) dan tiba-tiba adegan itu hilang dan muncul pagi hari dimana mereka bertiga makan dengan lahap

Walau sang anak bernama Kim Joon menyadari ketika makan dirinya tidak mendengar gonggongan sang anjing berlari ke kandang dan melihat tidak ada namun itu membuat sang ayah marah besar dan dia sadar daging apa yang dia makan lantas dimuntahkannya.

Sang istri, Yong Soo ternyata terkena diagnosa penyakit TBC akut dan harus diberikan obat, nah masalahnya ada obat itu tidak ada di negeri itu satu-satunya cara adalah berangkat ke Tiongkok dan itu tidak mungkin terjadi.




Sementara itu kolega c Kim Yong Soo yang anggota partai suatu ketika mengobrol dan memberikan sebuah buku yang ternyata Alkitab sambil mengobrol dan minum alcohol buatan AS, si kolega ini berbicara kalau buku yang dipegang itu adalah buku tentang kehidupan.

Namun naasnya, nasib si kolega nya ini harus kandas dan masuk dalam kamp tahanan politik yang kejam dikarenakan ada tuduhan menyebarkan agama nasrani yang jelas-jelas dilarang dan terbukti dimana dalam adegan tersebut seorang tentara dengan bayonet di depan senapannya tiba-tiba menghunuskan ke bagian platform rumah dan runtuhnya puluhan Alkitab jenis kecil.

Kenapa tidak mungkin terjadi karena Tiongkok dan Korea Utara adalah sahabat baik namun sisi negative adalah para penduduk Korea Utara banyak kabur ke Tiongkok dan bekerja jika tertangkap oleh Biro Keamanan dan Politik Tiongkok maka warga yang kabur ini tidak segan-segan untuk merampas uang dan segala yang dimiliki oleh warga yang kabur dan langsung mengembalikan mereka ke korut dan sampai di korut maka siksaan akan menyambut mereka bahkan lebih sadis.

Dan itu tidak pandang apakah pria atau wanita, bahkan wanita hamil pun mereka akan dengan senang hati menyiksanya.

Kembali ke film, disaat kegalauan terjadi akhirnya diputuskan lah si Kim Yong Soo untuk ke Tiongkok dengan menyebrang sungai perbatasan namun ketika menyebrang dirinya melihat ada sesosok mayat ngambang dengan sedikit teriak ternyata selain mayat ada juga pria tua namun sang pria tua ini ketahuan oleh petugas perbatasan sementara si bapak lolos dengan sembunyi di semak-semak yang tidak terlihat.

Setelah aman, barulah dirinya bisa menyeberang ke Tiongkok dan bekerja pada sebuah pabrik pengelolaan kayu dirinya bekerja sebagai kuli angkut, ditengah ketenangan dan berusaha untuk membeli obat dari upah yang didapat ternyata ada patroli mendadak oleh pihak biro keamanan dan politik Tiongkok.

Kejar-mengejar pun tidak terelakan, c Kim Yong Soo bersama dengan teman-teman seperjuangannya bisa menghindar dan bersembunyi walau harus kehilangan tas yang berisi uang hasil jerih payahnya selama ini.

Disaat bersembunyi tiba-tiba ada seorang pria yang memanggil mereka dan menyatakan bisa membantu mereka sejahtera, karena mereka percaya akhirnya si Kim Yong Soo dan teman-temannya mengikuti apa yang dilakukan oleh sang pria yang ternyata penggiat HAM

Mereka dibawa ke pusat kota dengan segala kemewahan yang selama ini mereka tidak pernah lihat di negaranya, mereka sempat makan sate yang ada di pinggir jalan.

Akhirnya aksi mereka ini pun terlaksana dimana Kim Yong Soo dan koleganya dibawa dalam sebuah mobil ketika berada di depan Kantor Kedutaan Besar Jerman seperti dalam satu komando begitu pintu mobil dibuka dan pintu gerbang kedutaan dibuka maka mereka langsung berlarian menuju dalam dan membuat panic semua pihak terutama keamanan kedutaan.

Dengan segala upaya termasuk menyelamatkan seorang ibu dan anaknya yang hampir diseret oleh pihak kedutaan keluar areal gedung dan pihak kepolisian Tiongkok siap menyambut maka sang ibu pun dapat dibawa masuk kembali ke dalam areal kedutaan dan pihak Tiongkok Cuma bisa gigit jari.

Sambil menunggu aman pun, para pelarian korea utara ini pun masuk dengan cepat ke dalam mobil beriringan menuju bandara ke Korea Selatan dengan segala identitas baru.

Setelah sampai di Korea Selatan, KimYong Soo pun bekerja disebuah restoran dan terus mencari obat untuk sang istri ketika berada disebuah klinik dan memberikan secarik kertas lantas si petugas klinik mengatakan bahwa untuk obat TBC disediakan gratis.

Begitu mendengar kata gratis, Kim Yong Soo langsung bertanya dengan semangat dimana bisa mendapatkan itu, lantas si petugas klinik memberikan arah jalannya.

Hari demi hari Kim Yong Soo memberikan obat TBC tersebut dalam bentuk tabung besar dan menaruhnya di meja dekat tempat tidur begitu juga dengan bola serta sepatu bola untuk sang anak.

Namun di Korea Utara sendiri, sang istri harus meregang nyawa karena tidak adanya pasokan makanan dan bertambah berat batuknya dan meninggal dalam kesendirian karena Joon yang sedang sekolah.

Begitu Joon pulang dirinya bingung kenapa banyak orang dan tentara ternyata tetangganya memberitahu kalau ibunya sudah tiadanya.

Karena Korea Utara itu tertutup maka untuk mengangkut jenazah pun menggunakan truk tronton tentara begitu dimasukan ke dalam Joon baru sadar dan menangis sekencang-kencangnya dan mengejar truk yang mengangkut jenazah sang ibu hingga tidak bisa dikejar karena dirinya ingat dengan janji sang bapak untuk meminta sang anak menjaga ibunya namun janji itu tidak bisa dijalankan penuh.

Karena tidak punya siapa-siapa lagi maka Joon pun ke sekolah dengan biasanya namun suatu hari ketika pulang dirinya mendapati kalau isinya rumahnya kosong yang ternyata sudah dijual oleh tetangganya.

Uang hasil penjualan isi rumah diberikan kepada Joon, dan mulai lah Joon berkelana tanpa arah karena tidak ada lagi yang bisa dia berlindung.

hingga suatu saat dirinya tertangkap oleh tentara perbatasan dikarenakan mencoba kabur menuju Tiongkok untuk mencari sang ayah bersama teman perempuan, Mi-Seon anak dari teman bapaknya.

Ketika tertangkap maka dimulainya bagaimana kehidupan kamp politik Korea Utara dimana anak-anak harus bekerja memecah batu menjadi kecil-kecil.

Karena keterbatasan akses kesehatan makan teman perempuan Joon, Mi-Seon pun menderita sakit kulit atas dasar rekomendasi temannya untuk menyembuhkan itu adalah dengan kulit tikus yang ditempel maka dicari lah tikus dan dapat kemudian dikuliti setelah itu ditempelkan ke pundak teman perempuannya.

Namun sayangnya bukannya sembuh yang didapat melainkan tumbuhnya belakung di dalam pundaknya dan berakhir dengan kematian ketika dua anak ini mencoba sepeda prajurit Korea Utara yang meminta sang anak untuk membersihkannya, Mi Seon pun terjauh dari sepeda.

Sementara di Korea Selatan Kim Yong Soo pun terus menghubungi koleganya untuk memantau sang anak serta istri namun ketika berada di stasiun dan menerima telepon kaget lah dirinya bahwa ada kabar sang anak di penjara politik Korut dan sang istri meninggal

Sontak dirinya frustasi sampai rumah dan kembali bertanya kepada orang yang memberikan tempat tinggal dan membantu mengeluarkan dari Korut dengan memaki apa gunanya hidup ini.

Setelah Joon keluar dari penjara kamp politik dan diseberangkan ke perbatasan tentunya dengan praktek suap maka Joon pun tiba di perbatasan Tiongkok dan dibantu oleh seorang broker.

Singkat cerita Joon pun berhasil keluar dari pantauan Biro Keamanan dan politik Tiongkok dan broker pun menyebrangkan sang anak dengan tulisan “ antarkan saya ke Kedutaan Korea Selatan untuk bertemu dengan ayah saya” dileher ke pintu masuk gurun gobi menuju Mongolia.

Berhari-hari berjalan di gurun gobi dengan udara panas dan angin kencang pada malam hari akhirnya Joon pun meninggal dunia dan Kim Yong Soo pun hanya bisa meratapi karena ketika berangkat menuju Mongolia tertahan karena dalam tasnya banyak sekali tablet obat TBC.

Bagi w film ini ada sebagai representative dari kehidupan yang ada di Korea Utara walau yang buat itu adalah sineas Korea Selatan tapi dengan keadaan yang kita tahu lewat film ini kita menjadi tahu.

Bagaimana beringasnya para prajurit ini melihat dengan hina warga korea utara yang bermasalah terutama para wanita dengan mudahnya mereka memperkosa secara beramai-ramai sampi memukul berdarah-darah.

Bahkan untuk aborsi pun mereka punya cara tersendiri dimana perempuan yang hamil diperintahkan untuk telentang kemudian menyuruh dua orang pria dibawah todongan senapan membawa dan meletakkan sebidang kayu kayak model papan skateboard di atas perut wanita hamil tersebut daaann.. dua pria ini dibawah todongan senapan melakukan kegiatan “jungkat-jangkit” (bisa dibayangkan kan bagaimana kejamnya)

Kelar pemutaran, diadakan tanya jawab seputar film dan kondisi terakhir di Korea Utara kebetulan dalam pekan HAM ini hadir dua orang saksi mata bagaimana kekejaman yang dilakukan oleh para prajurit Korut
.
Kelar tanya-jawab maka dilanjutkan dengan ramah tamah dengan kudapan kue snack, w pun ngobrol dengan beberapa tamu yang w kenal seperti perwakilan dari PBB dan panitia yang juga wartawan senior yaitu ka Maria bahkan w kepengen bisa mendapatkan copy film tersebut.

Setelah ramah-tamah akhirnya w dan cewek w pun keluar dari Gallery Cemara menuju ke jalan Wahid Hasyim depan Hotel Cemara untuk mencari taksi pulang.

Stelah mendapatkan taksi akhirnya w menuju ke kostan cwek w untuk mengantarkan pulang dan selanjutnya menuju Bekasi tempat tinggal w.


Demikian Pekan HAM Korea Utara yang w hadiri mau tau bagaimana aksi para penggiat ini di depan Kedutaan Besar Korea Utara bahkan bergesekan dengan para staff kedutaan ? nantikan yaa !

Gallery Cemara


@Lorcasz