Sabtu, 10 Mei 2014

Bersitegang dengan Staff DPR Korea Emb


Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian dari Pekan HAM Korea Utara yang w datangi dan w tulis juga di blog ini.

Ini adalah bagian dari terakhir dan dalam tulisan ini juga w akan bercerita bagaimana wujud dari manusia dengan kewarganegaraan Korea Utara itu .

Di jadwal hanya ada keterangan akan ada penutupan Pekan HAM Korea Utara tapi tidak ada kegiatan di depan Kedutaan Besar DPR Korea dan w baru tahu ketika w kontak salah satu panitia yang w kenal sebagai jurnalis senior yang mengatakan bahwa dalam penutupan itu ada semacam kebulatan tekad dan demo di depan Kedubes Korut.

W menerima jawaban sms tersebut ketika jalan menuju Gallery Cemara persis depan Kedubes Korut, sambil baca w pun bingung sambil melihat ke kiri yaitu gedung Kedubes Korut namun masih sepi.

Akhirnya w pun sampai di Menara Gallery, begitu w sampai pun suasana ruangan tempat parade photo dan kisah tentang bagaimana keberingasan Korea Utara.

Namun ternyata hari itu karena terakhir maka hanya sedikit orang yang melihat pameran tersebut dan beberapa bagian dari pameran ini sudah dibongkar seperti televisi dan piguran berisi gambar karikatur.

Setelah berbincang-bincang akhirnya acara penutupan pun berlangsung dimana diawali dengan kata sambutan dari panitia, support dari acara ini yaitu LIPI dan KontraS.





Kelar kata sambutan maka dilanjutkan dengan pengumuman pemenang dari karya tulis tentang Korea Utara dimana sekitar seratusan karya yang masuk ke panitia tidak hanya dari Indonesia tetapi juga luar negeri seperti Australia dan Taiwan.

Namun panitia menetapkan dua juara yaitu mahasiswa asal Universitas Indonesia dan Universitas Nasional.
Ada yang menarik dan lucu dari kompetisi ini dimana ketika dipanggil dua orang ini (cewek dan cowok) untuk maju ke depan, ternyata panitia tidak menetapkan juara I dan II tetapi harus memilih hadiah yang diberikan panitia.

Hadiah inilah yang membuat dua orang pemenang karya tulis tentang Korea Utara berpikir berkali-kali karena hadiahnya adalah berkeliling ke Korea Selatan dan Smartphone Samsung Galaxy S-5 !

Setelah mengumumkan pemenang karya tulis Korea Utara, maka dilanjutkan dengan pengucapan pesan Jakarta bagian dari Pekan HAM Korut.

Berikut isi dan tampilan dari Pesan Jakarta tentang HAM Korut yang dibacakan dalam dua bahasa, Indonesia dan Korea




Pernyataan Bersama di Jakarta

1. Kita Berkumpul di Jakarta, Indonesia sebuah kota life respect untuk mengingat asas-asas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta menghormati masyarakat Korea Utara.

2. Yayasan Citizens Alliance for North Korea Human Rights (NKHR), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyelenggarakan sejumlah acara bersama di Jakarta, Indonesia, sebuah kota utama di Asia Tenggara dari tanggal 28 April hingga 2 Mei 2014 untuk meningkatkan kerja sama internasional dan mendalami dengan serius berbagai kasus yang dijabarkan dalam laporan UN Commission of Inquiry, Resolusi PBB oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB ke-25 dan lain-lain.

3. Penyelenggaraan acara yang berjudul “ Korea Utara : Seruan orang-orang yang dirampas suaranya !” ini mencerminkan bukan hanya simpati organisasi penyelenggara, melainkan juga menunjukkan perhatian serta kekhawatiran dari masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pekan Hak Asasi Manusia di Korea Utara bertujuan menyampaikan potret situasi hak asasi manusia di Korea Utara yang memprihatinkan dan menumbuhkan solidaritas untuk berupaya mencari jalan penyelesaian terbaik, baik kepada media dalam dan luar negeri Indonesia, maupun generasi muda serta masyarakat Indonesia secara umum melalui berbagai acara kebudayaan, seperti pameran lukisan, seminar, film, lomba essai, flash mob dan lain-lain.

4. Banyak orang yang mengikuti rangkaian acara tersebut geram terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Korea Utara dan mendiskusikan apa yang bisa dilakukan untuk membantu korban. 

Dunia internasional patut menuntut pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat dalam aksi pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat Korea Utara.

5. Tekanan dan tuduhan dunia internasional akan meningkat jika Korea Utara tidak segera memperbaiki kondisi hak asasi manusia dengan tindakan nyata berdasarkan aspirasi dunia internasional.

Dengan ini, kami meminta Pemerintah Korea Utara untuk :

5.1. Menghentikan pelanggaran hak asasi manusia serius yang sistematik dan meluas.

5.2. Menghentikan diskriminasi berdasarkan tingkat sosial, kekerasan terhadap perempuan serta tuna daksa dan lain-lain

5.3. Menghentikan metode guilty-by-association dan perampasan hak hidup di kamp tahanan politik dan tempat penahanan lain.

5.4. Menghentikan perampasan hak kebebasan berpikir, beragama, berekspresi, berkumpul dan hak privasi.

5.5. Menghentikan penculikan yang dilakukan berdasarkan kebijakan negara.

2 Mei 2014

Jakarta, Indonesia

Citizens Alliance for North Korean Human Rights

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan.


Setelah melakukan Pesan Jakarta, kemudian disambut dengan acara penutupan dari Pekan HAM Korea Utara dan persiapan menuju Kedutaan Korut untuk membacakan pesan tersebut dan menyerahkan kepada staff kedutaan.

Semua barang pun dimasukan kedalam mobil, sambil menunggu para panitia Pekan HAM Korea Utara pun bercengkrama dengan para staff hotel mulai dari photo bersama hingga selfie-an

Pemandangan ini jarang w lihat ketika liputan apapun hingga dalam tahap beres-beres dan di Gallery Cemara.

Setelah kelar beres-beres dan berphoto ria, saatnya berangkat menuju Kedutaan Korea Utara kebetulan w bersama Ka Maria, staff KontraS dan dua pemenang karya tulis dalam sebuah mobil pabrikan AS.

Setidaknya ada tiga mobil secara beriringan menuju Kedutaan Besar Korea Utara, w sendiri jujur sebelum acara ini belum pernah dan bagaimana rupa dari staff kedubes Korut secara negara itu sangat-sangat tertutup.

Dalam iringan ini juga yang membuat menarik dan agak menegangkan adalah terdapat dua staff diplomatic tetangga secara tidak langsung kalau ketahuan maka akan ada tiga negara yang bersinggungan dan bisa berakhir dengan persona non grata.

Namun bayangan itu setidaknya agak memudar dan menegang kembali ketika tiba di depan Kedutaan Besar Korea Utara dimana ketika sampai pintu gerbang kedutaan terbuka dan seorang anak sedang keluar dari halaman kedutaan

Kami pun semua turun, begitu turun maka gerbang kedutaan pun ikut tertutup setelah itu para panitia mempersiapkan segalanya, sementara yang lain mencoba menghubungi kedutaan ini dan menemukan tombol untuk memanggil staff dari dalam untuk keluar

Cukup lama untuk memanggil staff kedutaan Korut untuk keluar, disaat tersebut para panitia ini pun bersama simpatisan dan dua saksi hidup menggelar sedikit demo dengan membentangkan spanduk dalam bahasa Korea dan Indonesia.































Ketika mereka sedang menyuarakan aspirasi tiba-tiba dari pintu kecil, dua orang staff kedutaan Korea Utara wanita dan pria keluar dari pintu kecil tersebut, entah kesal atau tidak tiba-tiba seorang pria staff kedutaan mendorong untuk membubarkan demo tersebut.








Kemudian mencoba merebut spanduk dan beberapa kertas namun bisa diamankan oleh para pendemo, mungkin karena malu atau gimana akhirnya staff pria tersebut bermuka agak Eropa dengan kulit putih pun masuk ke dalam pintu kecil tersebut dan menguncinya.

Sayangnya w tidak merekam adegan tersebut mengingat situasi dan peraturan internasional dalam hal diplomatic tapi w masih bisa mengabadikannya dalam photo itupun w lakukan di seberang gedung tepatnya di Shelter Bus Trans Jakarta.

Sepanjang mereka berdemo pun masyarakat yang melintas pun penasaran bahkan w pun ditanya oleh beberapa tukang ojek menanyakan apa yang terjadi w pun menjelaskan situasi yang terjadi.





Mendapatkan perlakuan tersebut tidak membuat para pendemo gusar justru mereka membacakan pernyataan sikap mereka dalam bahasa Korea, setelah itu mereka kembali memencet tombol panggilan untuk meminta para staff kedutaan untuk keluar menerima surat pernyataan mereka.

Namun sayangnya tombol pemanggil tersebut tidak direspon oleh kedutaan akhirnya para pendemo melemparkan pernyataan dalam amplop cokelat besar menaruhnya di sela-sela pagar depan.

Setelah melemparkan pernyataan tersebut, akhirnya kami berpisah dimana para panitia dari NKHR memasuki mobil yang kami tumpangi untuk beranjak ke Bandara untuk pulang ke Korea Selatan walau jam terbangnya adalah pukul 22.00 dan kegiatan demo tersebut berakhir pukul 15.30

W pun beranjak dari depan Kedutaan Korea Utara untuk kembali ke rumah, w pun bersama ka Maria jalan bersama hingga perempatan lampu merah Jl. Imam Bonjol.

W dan Ka Maria pun berpisah di perempatan Jl. Imam Bonjol dan menaiki bus 213 untuk kembali ke arah selatan sedangkan w naik bus yang sama namun arahnya ke Kampung Melayu.

Dan inilah akhir dari acara Pekan HAM Korea Utara yang w hadiri, terima kasih buat semua pihak termasuk yang baca tulisan-tulisan w soal isu ini semoga lewat tulisan, video dan photo yang w buat paling tidak bisa menyadarkan negeri ini atas apa yang terjadi di sana walau sebenarnya kita sudah punya PELAPOR KHUSUS PBB untuk Korea Utara !

Latuharhary


@Lorcasz